Para ilmuwan Amerika Serikat mengungkap hal itu setelah mengkaji 30 penelitian terdahulu, yang melibatkan tak kurang dari 2.000 pasien kanker. Sebagian dari partisipan menjalani terapi kanker seperti biasa, sedangkan sisanya diberi tambahan terapi musik.
Dibandingkan partisipan yang menjalani terapi standar, partisipan yang mendapat tambahan terapi musik mengalami penurunan tingkat anksietas atau kegelisahan klinis. Suasana hati juga teramati membaik, namun tingkat depresi tidak terlalu terpengaruh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Temuan ini menyiratkan bahwa intervensi musik sama bergunanya dengan terapi komplementer (tambahan) lainnya, khusunya bagi pengidap kanker," ungkap Dr Joke Bradt dari Drexel University yang melakukan kajian tersebut, seperti dikutip dari Ninemsn, Rabu (10/8/2011).
Sebelumnya, berbagai penelitian juga telah membuktikan bahwa musik bisa meredakan rasa nyeri pada kondisi selain kanker misalnya pada penderita nyeri punggung. Pada pasien yang mendengarkan musik selama 20 menit/hari, nyeri punggung bisa berkurang hingga 20 persen.
Manfaat lain dari terapi musik adalah mempercepat penyembuhan luka setelah operasi. Penelitian yang dilakukan di Barts and The London NHS Trust membuktikan, musik membuat ritme jantung pasien lebih stabil sehingga mendukung proses alami tubuh dalam menutup luka di permukaan tubuh.
(up/ir)











































