Hasil studi yang dilaporkan oleh Clinic Cleveland menemukan bahwa laki-laki yang bisa berdamai dengan kondisi rambutnya yang menipis cenderung lebih kurang stres dan bisa berbuat lebih baik dibanding dengan laki-laki yang mencoba mencari kompensasi melalui operasi atau obat.
"Umumnya hanya firasat buruk tentang bagaimana cara orang tersebut melihat kebotakan yang membuat sesuatu menjadi lebih mengerikan," ujar Michael McKee, PhD seorang psikolog yang terlibat dalam studi ini, seperti dikutip dari Foxnews, Kamis (15/9/2011).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi yang dilakukan di University of Trier, Jerman ini melibatkan 160 laki-laki berusia 18-30 tahun dan mempelajari bagaimana partisipan ini mengatasi kebotakan akibat rambut rontoknya.
Diketahui partisipan yang mencoba strategi perawatan penggantian rambut memiliki kadar stres yang lebih tinggi dibanding dengan mereka yang tidak, dan orang-orang yang mencoba menggunakan obat-obatan sering merasa kecewa oleh efek samping yang ditimbulkan dan tinggi biayanya.
Sedangkan partisipan yang tidak melakukan perawatan apapun dan bisa berdamai dengan kebotakannya justru mampu melakukan sesuatu dengan lebih baik dan lebih kurang stres. Hasil studi ini dipublikasikan dalam jurnal Body Image.
"Rambut rontok terkait dengan kondisi ayah ibu Anda, ada hubungan turun menurun disana. Dan kondisi ini tampaknya bukanlah suatu hal yang menyakitinya dalam hidup, jadi cobalah untuk berdamai dengannya," ujar McKee.
(ver/ir)










































