Penelitian yang dimuat dalam jurnal Psychosomatic Medicine ini mempelajari 44 orang mahasiswa, 30 di antaranya perempuan, dan sekitar setengahnya telah mengikuti kursus meditasi selama 12 minggu.
Semua peserta diperlihatkan sejumlah foto dan beberapa di antaranya berisi foto erotis untuk mengukur waktu reaksinya dalam perasaan "tenang," "bersemangat", atau "terangsang." Para peserta juga mengisi kuesioner untuk menilai aspek penerimaan diri dan kesejahteraan psikologis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini menarik, para perempuan yang membutuhkan waktu lebih lama memahami perasaan gairah seksual pada awalnya juga orang-orang yang paling keras menilai dirinya sendiri," kata Silverstein seeprti dilansir MyHealthNewsDaily.com, Senin (5/12/2011).
Menurut Dr Elizabeth Kavaler, urolog di Lenox Hill Hospital di New York, terjadi percakapan mental yang tampaknya hinggap dalam otak kebanyakan perempuan selama berhubungan seks. Percakapan mental tersebut seperti; "Apakah saya cukup cantik?", "Apakah saya melakukannya dengan cukup baik?", dan sebagainya.
Percakapan mental selama berhubungan seks membuat sebagian besar perempuan memikirkan hal-hal lain selama berhubungan seks tanpa menyadari bahwa hal itu menghambat gairahnya. Beberapa orang bahkan tidak dapat berfungsi secara seksual jika ada hal lain yang melintas dalam pikirannya.
"Penelitian ini mendukung bukti bahwa bagian terbesar dari sifat seksualitas perempuan bersifat emosional dan mental. Vagina adalah bagian paling penting dari seksualitas perempuan. Memang benar bahwa seks bagi perempuan belum tentu sama dengan seks bagi pria," kata Kavaler.
Dengan latihan meditasi, percakapan-percakapan mental yang akan menyebabkan penilaian negatif terhadap diri sendiri ini dapat segera diatasi dengan munculnya kesadaran interoseptif. Peningkatan kesadaran interoseptif juga terkait dengan perbaikan diri terhadap perhatian, penilaian diri, kecemasan, dan depresi.










































