Studi yang dilakukan oleh ahli saraf menemukan melakukan interaksi sosial, misalnya cukup berada di ruangan yang sama dengan orang lain memiliki potensi untuk mengurangi stres yang pada gilirannya memungkinkan tubuh untuk menyembuhkan penyakit lebih cepat.
Hasil ini didasarkan pada studi tikus yang baru saja menjalani bedah saraf. Beberapa tikus ada yang ditempatkan sendiri di sangkar, sementara yang lainnya berada tetap dekat dengan tikus-tikus lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika mereka sendirian dan stres maka bisa meningkatkan peradangan, tapi jika memiliki mitra sosial untuk berinteraksi, peradangan ini berkurang," ujar Adam Hinzey, penulis utama studi, seperti dikutip dari Telegraph, Senin (22/10/2012).
Hinzey menuturkan beberapa perawatan nyeri sensorik saat ini tersedia. Namun dengan penelitian ini diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik bahwa interaksi sosial bisa mengarah pada terapi baru untuk nyeri yang mempercepat penyembuhan.
"Kami percaya individu yang terisolasi secara sosial memiliki fisiologis berbeda dan tampaknya terkait dengan peradangan. Data menunjukkan lingkungan sosial tidak hanya mempengaruhi perilaku, tapi juga respons fisiologis terhadap cedera saraf," ujar Courtney DeVries, profesor neuroscience dari Ohio State University.
Beberapa ahli sebelumnya telah sepakat bahwa rasa sakit pada manusia bisa sangat dipengaruhi oleh suasana hati, ekspektasi atau harapannya dan sikap. Intervensi sosial dan lingkungan juga memiliki dampak besar pada kesehatan.
(ver/vit)










































