Tim peneliti dari Northwestern University, Illinois telah menemukan bahwa orang-orang yang 'dihantui rasa bersalah' justru merasa apapun yang mereka konsumsi akan terasa lebih nikmat.
Ide studi itu sendiri muncul saat si ketua tim peneliti, Kelly Goldsmith mengisahkan tentang rekan kerjanya yang mengaku baru saja menggunakan program diet dari Weight Watchers, sebuah perusahaan yang menawarkan berbagai produk diet dan layanan pendampingan penurunan atau pengelolaan berat badan yang berbasis di AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah itu peneliti melakukan sejumlah percobaan. Pertama, peneliti membagi partisipan menjadi dua kelompok dan meminta mereka untuk mengamati sampul enam majalah yang berbeda. Separuh partisipan disuguhi sampul majalah yang berkaitan dengan kesehatan tapi separuhnya lagi hanya diberi sampul majalah yang tak ada kaitannya dengan kesehatan. Kemudian seluruh partisipan diberi cokelat batangan.
Uniknya, partisipan yang baru saja membaca artikel tentang makan sehat mengaku coklatnya lebih enak daripada cokelat yang dimakan partisipan yang tidak membaca artikel itu.
Pada percobaan kedua, peneliti membagi 100 mahasiswa ke dalam tiga kelompok dan meminta mereka untuk menggambarkan tiga pengalaman mereka dalam sejumlah kalimat. Ketiga pengalaman itu berisi tentang kapan saja partisipan merasa bersalah, kapan saja partisipan merasa jijik dan gambaran tentang tiga waktu berbeda yang dipilih partisipan secara acak. Lalu seluruh partisipan diberi chocolate truffle untuk dimakan.
Ternyata partisipan yang diminta mengisahkan momen-momen rasa bersalahnya mengaku chocolate truffle-nya terasa lebih enak dibandingkan partisipan lainnya.
Namun yang lebih mengejutkan lagi, studi yang dipublikasikan dalam The Journal of Marketing Research ini juga menemukan bahwa kaitan antara rasa bersalah dan kenikmatan mengonsumsi sesuatu itu tidak berlaku pada makanan semata.
Dalam percobaan lain, wanita yang dibuat merasa bersalah lalu diperlihatkan profil sejumlah pria tampan di sebuah situs kencan justru mengaku lebih terkesan dan lebih menikmati ketika disuguhi profil pria-pria itu daripada partisipan lain yang tidak dibuat merasa bersalah.
"Rasa bersalah itu ada kaitannya dengan kesenangan karena seringkali ketika kita merasa bersalah, di saat yang bersamaan kita juga mengalami kesenangan tersendiri," ujar Goldsmith seperti dilansir Daily Mail, Selasa (27/11/2012).
"Saya kira hubungan kognitif ini sudah bisa terbentuk hanya lewat apa yang kita sebut dengan repeated coactivation. Jadi ketika 'kenikmatannya' diaktifkan maka rasa bersalahnya juga akan diaktifkan. Begitu pula di dalam otak kita, lama-kelamaan otak kita pun akan terkoneksi karenanya," pungkasnya.










































