Studi ini menunjukkan olahraga secara berkelompok membuat olahraganya lebih efektif ketimbang olahraga sendiri. Selain itu, meski seseorang berolahraga bersama temannya yang lebih kuat dengan durasi yang lebih lama, mereka tidak merasakan kelelahan, bahkan bila dibandingkan orang yang berolahraga sendiri dengan durasi yang lebih pendek.
"Ketika durasinya dibuat lebih lama, seorang partner yang kondisi fisiknya lebih baik dari Anda dapat membuat perbedaan yang luar biasa. Dia mendorong Anda membuat target, bahkan mungkin menginspirasi Anda untuk meningkatkan target," ungkap peneliti Brandon Irwin, asisten profesor kinesiologi dari Kansas State University.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahkan banyak dari mereka yang rutin berolahraga lama nyatanya terkadang masih gagal mencapai target olahraga ringan yang direkomendasikan seperti jalan cepat. Kalaupun mencoba olahraga berat, mereka harus mencapai dan mempertahankan tingkat pengerahan tenaga yang begitu tinggi hingga mungkin sulit bagi mereka untuk diajak ngobrol ketika berolahraga," terang Irwin seperti dikutip dari healthfinder, Selasa (4/12/2012).
Untuk memastikan hal itu, peneliti merekrut 58 mahasiswi dari Michigan State University untuk kemudian dinilai tingkat kebugaran fisik dan aktivitas fisik rutinnya. Partisipan diminta berolahraga dengan menggunakan sepeda stasioner selama 4 minggu dengan durasi setiap sesi 60 menit.
Pada sesi kedua, partisipan diminta kembali ke lab untuk melakukan aktivitas serupa, namun mereka ditemani dengan seorang partner di lab lain yang hanya bisa mereka lihat di monitor. (Realitanya, monitor itu hanya menunjukkan video pengulangan, bukannya video siaran langsung tentang seorang wanita tengah berolahraga).
Partisipan juga diberitahu oleh peneliti bahwa 'partnernya' itu telah mengendarai sepeda yang sama 40 persen lebih lama daripada sesi pertama yang dilakoni partisipan. Mungkin terinspirasi untuk melakukan hal yang sama, partisipan pun menggandakan waktu bersepedanya hingga melebihi rata-rata sesi bersepeda mereka di sesi pertama.
Lalu peneliti memberitahu partisipan jika mereka harus bekerjasama dengan 'partnernya' untuk mencapai skor tim kombinasi. Setiap partisipan juga diberitahu jika 'partnernya' telah bersepeda lebih lama di sesi sebelumnya.
Setelah beberapa sesi, partisipan yang percaya mereka tengah berolahraga sebagai sebuah tim dapat berolahraga 160 persen lebih lama daripada jika mereka berolahraga bersama satu orang partner saja, bahkan 200 persen lebih lama daripada yang berolahraga sendirian.
Tapi meski studi yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of Internal Medicine ini hanya melibatkan partisipan wanita, menurut Irwin kondisi ini berlaku untuk pria dan wanita. Peneliti mengungkapkan jika seorang pria dipasangkan dengan wanita yang lebih bugar darinya maka pria itu akan sangat termotivasi untuk berolahraga. Begitu juga jika pria itu dipasangkan dengan pria lain yang lebih bugar.
"Jadi jika partner ternyata lebih malas dari Anda maka Anda akan cenderung kurang termotivasi, bahkan enggan berolahraga lebih keras daripada saat Anda berolahraga sendirian," papar Irwin.
Dengan kata lain, Irwin menyarankan agar setiap orang mencari teman olahraga yang jauh lebih bugar atau lebih kuat, apalagi jika targetnya adalah olahraga lebih keras dengan durasi yang lebih lama. "Carilah teman yang membuat Anda tertantang," pungkasnya.
(vit/vit)











































