Media sosial seperti Twitter tidak hanya memiliki fungsi untuk bersosialisasi di dunia maya dan mengetahui informasi terbaru secara realtime. Twitter juga dapat digunakan untuk menelusuri fakta-fakta mengenai flu dan meningkatkan pelayanan sosial.
Para peneliti dari Universitas Johns Hopkins menelusuri berbagai keluhan warga di seluruh Amerika Serikat dari media sosial berlogo burung biru ini. Demikian ditulis Computerworld, Jumat, (1/2/2013).
Warga Amerika memilih Twitter untuk menyampaikan keluhannya ketika sakit dengan gejala-gejala yang mereka rasakan. Para peneliti mengumpulkan berbagai keluhan tersebut sebagai data. Data tersebut dipakai untuk mengetahui bagaimana wabah flu meningkat dan menyebar dari berbagai negara bagian ke negara bagian lainnya.
Twitter menawarkan cara baru untuk mendapatkan data real-time influenza dari para warga, karena kebanyakan warga cenderung tinggal dan beristirahat di rumah.
“Penelitian ini menunjukkan informasi yang ada di Twitter dapat digunakan sebagai panduan bagi lembaga kesehatan masyarakat untuk memberikan tanggapan terhadap wabah penyakit menular,” kata asisten peneliti, Mark Dredze.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini di Amerika wabah penyakit flu berat tengan meluas. Menurut Centers for Disease Control and Prevention sejak pertengahan Desember, pasien rawat inap yang menderita flu meningkat tajam.
Sementara itu, walaupun kasus flu di berbagai negara bagian telah menurun, jumlah penderita secara nasional tetap tinggi. Berdasarkan data dari CDC, sebanyak 6.191 orang di rawat karena flu pada periode tanggal 1 Oktober hingga 19 Januari. Sedangkan menurut Nationwide, sebanyak 37 anak meninggal akibat flu.
Untuk mengetahui perkembangan naik atau turunnya flu di seluruh negara, peneliti berpaling ke jaringan sosial.
Salah satu masalah utama yang belum diketahui peneliti adalah cara menghitung jumlah tweet yang menyebutkan kata-kata flu atau influenza, karena beberapa orang yang berkomentar ataupun bertanya dimungkinkan tidak sakit flu.
"Ketika Anda melihat berbagai pos di twitter, maka Anda bisa melihat orang-orang yang takut terkena flu ata menanyakan teman-temannya apakah mereka memerlukan suntikan flu atau menyebut publik figure yang mungkin akan sakit. Namun status seperti itu tidak bisa mengukur berapa banyak orang yang benar-benar terkena flu. Kami ingin memisahkan pembicaraan mengenai flu dan orang yang benar-benar sakit," papar Dredze.
Para peneliti dari sekolah kedokteran pun bekerja sama membangun filter dengan metode statistik berdasarkan bahasa manusia dalam tiap status Twitter mengenai flu.
Penelitian diperkuat pihak universitas yang melakukan statistic flu berkolerasi dengan temuan CDC. Peneliti mencatat adanya hasil yang lebih cepat.
(/)










































