Jumat, 15 Mar 2013 09:24 WIB

Lebih Baik Stop Merokok Saat Gendut Daripada Tidak Sama Sekali

- detikHealth
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Berhenti merokok telah lama diketahui memberikan banyak manfaat bagi kesehatan, tapi sejauh ini belum pernah ada yang tahu apakah perokok yang mengalami kelebihan berat badan juga akan merasakan manfaat yang sama. Hingga akhirnya sebuah studi baru mengungkap bahwa penderita obesitas yang berhenti merokok tetap akan mengalami penurunan risiko serangan jantung atau stroke.

"Penambahan berat badan adalah kekhawatiran yang sering menghantui perokok yang ingin berhenti dan ini bukanlah semata persoalan estetika," kata peneliti Dr. Carole Clair dari University of Lausanne di Swiss dan Massachusetts General Hospital di Boston, AS seperti dilansir Reuters, Jumat (15/3/2013).

"Pasalnya kelebihan berat badan dan obesitas adalah faktor risiko bagi penyakit jantung koroner. Lagipula selama ini banyak orang mengira bahwa orang yang kadung berisiko terserang penyakit kardiovaskular akibat berat badannya akan gagal berhenti merokok atau setidaknya hanya mendapatkan sedikit manfaat dari berhenti merokok," lanjutnya.

Selain itu, detak jantung dan fungsi tubuh perokok lainnya dipercepat oleh nikotin sehingga mereka membakar lebih banyak kalori daripada bukan perokok. Tak heran ketika perokok menghentikan kebiasaannya itu, metabolismenya akan melambat, apalagi bagi orang-orang yang baru saja berhenti merokok karena mereka akan berupaya mengkompensasi efek penarikan dari nikotinnya dengan nyemil sehingga orang yang bersangkutan mengalami penambahan berat badan.

Kesimpulan itu diperoleh setelah Clair dan rekan-rekannya menganalisis data dari 3.251 orang yang ambil bagian dalam sebuah survei kesehatan yang digelar setiap empat tahun sekali antara 1984-2011. Di awal studi, hanya sepertiga partisipan yang diketahui merokok. Dengan usia rata-rata 25 tahun, 631 partisipan dilaporkan pernah mengalami serangan jantung, stroke, gagal jantung atau penyakit kardiovaskular jenis lainnya.

Hasilnya, partisipan yang mengaku berhenti merokok sejak mengikuti survei terakhir dan partisipan yang mengaku cukup lama berhenti merokok berpeluang 50 persen lebih rendah terkena gangguan jantung dibandingkan orang yang masih merokok hingga studi ini selesai.

Kendati begitu tak dapat dipungkiri jika orang yang berhenti merokok mengalami kenaikan berat badan sebesar 3 hingga 3,5 kilogram setelah berhenti. Tapi peneliti memastikan bahwa berhenti merokok saat kondisi berat badan tengah berlebih tak berdampak terhadap kesehatan kardiovaskularnya.

Menanggapi studi ini, Dr. Michael Fiore dari University of Wisconsin School of Medicine and Public Health di Madison mengatakan, "Kami tahu bahwa nikotin adalah penekan selera makan tapi ketika seseorang berhenti merokok mereka akan terdorong untuk lebih banyak makan. Yang perlu dilakukan hanyalah memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi rendah lemak atau rendah kalori. Lebih baik lagi jika Anda masih bisa menyempatkan diri untuk berolahraga rutin setiap hari."

Studi ini baru saja dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association.

(vta/vta)