Hal tersebut diungkapkan dalam studi terbaru yang menunjukkan bahwa terapi tertentu yang mengajarkan orang untuk lebih bisa mengatur emosi mereka tidak terlalu efektif. Menurut para peneliti, terapi untuk mengobati kecemasan sosial atau kondisi kejiwaan lainnya mungkin tidak bekerja dengan baik pada kondisi irang yang stres.
"Kami sudah lama menduga bahwa stres bisa mengganggu kemampuan kita untuk mengendalikan emosi. Tapi studi ini adalah yang pertama mendokumentasikan bagaimana stres ringan bahkan tidak bisa dilemahkan melalui terapi yang dirancang untuk menjaga emosi," kata peneliti Elizabeth Phelps, profesor ilmu saraf di New York University.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teknik yang disebut regulasi emosi kognitif bisa diajarkan pada orang-orang melalui terapi. Misalnya orang yang mengalami kecemasan dalam situasi sosial akan diminta mengubah cara pandang serta berpikir mereka hingga mereka melihat perspektif yang berbeda dan memiliki respon emosional yang berbeda pula.
Dalam studinya, Phelps melibatkan 78 peserta yang melihat gambar ular dan laba-laba. Beberapa gambar dihubungkan dengan stop kontak. Hasilnya, peserta melaporkan bahwa perasaan takutnya lebih intens saat melihat gambar yang terhubung dengan stop kontak, serta kulit mereka juga lebih terangsang (bergidik) dibanding saat melihat kartu yang tidak terhubung dengan stop kontak.
Kemudian, peserta diajarkan strategi terapi seperti yang digunakan di klinik-klinik untuk mengurangi rasa takut akibat melihat gambar tersebut. Keesokan harinya, peserta secara acak diminta untuk meletakkan tangan mereka di air dingin selama tiga menit. Teknik ini digunakan dalam eksperimen untuk menginduksi stres ringan.
Atau, mereka diminta meletakkan tangannya di dalam air hangat. Peserta yang meletakkan tangan di air hangat menunjukkan respon rasa takut yang berkurang ketika melihat gambar ular dan laba-laba. Hal ini menunjukkan bahwa peserta memapu menggunakan teknik yang sudah dipelajari untuk mengendalikan emosi beberapa hari sebelumnya.
Namun, mereka yang meletakkan tangan di air dingin tidak menunjukkan berkurangnya rasa takut dibanding hari sebelumnya. Para peneliti tahu bahwa butuh upaya untuk berpikir tentang situasi secara berbeda.
"Belajar untuk mengatur emosi tergantung daerah otak yang disebut korteks prefrontal. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa strategi regulasi kognitif itu tidak bekerja ketika seseorang sedang stres," kata Phelps, seperti dilansir Live Science, Rabu (28/8/2013).
"Namun, mungkin ada cara untuk mengatasi masalah ini. Bila strategi aturan kognitif dipraktekkan hingga bersifat lebih alami, itu akan menghasilkan pemakaian korteks prefrontal yang lebih sedikit," imbuh Phelps.
Dengan kata lain harus lebih banyak strategi yang digunakan sehingga lebih mudah juga digunakan meskipun Anda sedang stres. Studi ini dipublikasikan minggu ini dalam Proceedings of the National Academy of Sciences.
(up/up)










































