5 Cara Unik untuk Menghindari Migrain

5 Cara Unik untuk Menghindari Migrain

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Senin, 23 Sep 2013 13:03 WIB
5 Cara Unik untuk Menghindari Migrain
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Serangan migrain memang tidak mematikan, tetapi sungguh mengganggu produktivitas. Apalagi, kedatangannya kadang susah diperkirakan. Untungnya ada banyak cara untuk menghindari sakit kepala yang hanya sebelah ini.

Beberapa cara unik untuk menghindar dari migrain adalah sebagai berikut, seperti dikutip dari Foxnews, Senin (23/9/2013).

1. Minum pil KB

Menurut penelitian, serangan migrain cenderung mereda pada beberapa perempuan saat para perempuan itu sedang mengonsumsi pil KB. Setidaknya, serangan migrain tidak separah para perempuan yang hanya mengonsumsi plasebo atau obat kosong. Sayangnya belum ada penelitian mengenai efek pil KB terhadap migrain, pada laki-laki.

2. Mengikuti ramalan cuaca

Setiap ada peningkatan temperatur sebesar 5 derajat celcius, risiko mengalami serangan migrain akan meningkat 7,5 persen. Hal itu dibuktikan dalam sebuah penelitian di Harvard Gazette. Risiko serangan migrain juga meningkat saat terjadi sambaran petir di sekitar tempat tinggal seseorang.

Saat cuaca kurang bersahabat, dianjurkan untuk menghangatkan diri agar tidak gampang terkena migrain.

3. Mengobati alergi

Sekitar 30 persen orang yang punya alergi juga memiliki risiko migrain. Seseorang yang mengalami alergi akan melepaskan senyawa kimia yang disebut histamin, yang kebetulan juga termasuk salah satu pemicu serangan migrain. Laporan ilmiah dari University of Cincinnati menunjukkan bahwa risiko migrain akan berkurang sebanyak 50 persen saat mengonsumsi obat antialergi.

4. Menguruskan badan

Perempuan dengan timbunan lemak yang banyak di bagian perut memiliki risiko 37 persen lebih besar untuk terserang migrain, dibandingkan dengan perempuan yang berbadan lebih ramping. Penurunan berat badan sesedikit apapun akan memberikan pengaruh yang cukup signifikan, menurut sebuah penelitian di Drexel University pada tahun 2009.

5. Suntik botox

Bukan cuma untuk menghilangkan keriput, suntik botox alias botulinum toxin juga terbukti efektif untuk meredakan serangan migrain, khususnya yang sudah menyerang hingga 15 hari dalam sebulan. Pemakaian suntik botox untuk mengobati migrain telah mendapat persetujuan dari FDA (Food and Drug Administration).
Halaman 2 dari 6
Menurut penelitian, serangan migrain cenderung mereda pada beberapa perempuan saat para perempuan itu sedang mengonsumsi pil KB. Setidaknya, serangan migrain tidak separah para perempuan yang hanya mengonsumsi plasebo atau obat kosong. Sayangnya belum ada penelitian mengenai efek pil KB terhadap migrain, pada laki-laki.

Setiap ada peningkatan temperatur sebesar 5 derajat celcius, risiko mengalami serangan migrain akan meningkat 7,5 persen. Hal itu dibuktikan dalam sebuah penelitian di Harvard Gazette. Risiko serangan migrain juga meningkat saat terjadi sambaran petir di sekitar tempat tinggal seseorang.

Saat cuaca kurang bersahabat, dianjurkan untuk menghangatkan diri agar tidak gampang terkena migrain.

Sekitar 30 persen orang yang punya alergi juga memiliki risiko migrain. Seseorang yang mengalami alergi akan melepaskan senyawa kimia yang disebut histamin, yang kebetulan juga termasuk salah satu pemicu serangan migrain. Laporan ilmiah dari University of Cincinnati menunjukkan bahwa risiko migrain akan berkurang sebanyak 50 persen saat mengonsumsi obat antialergi.

Perempuan dengan timbunan lemak yang banyak di bagian perut memiliki risiko 37 persen lebih besar untuk terserang migrain, dibandingkan dengan perempuan yang berbadan lebih ramping. Penurunan berat badan sesedikit apapun akan memberikan pengaruh yang cukup signifikan, menurut sebuah penelitian di Drexel University pada tahun 2009.

Bukan cuma untuk menghilangkan keriput, suntik botox alias botulinum toxin juga terbukti efektif untuk meredakan serangan migrain, khususnya yang sudah menyerang hingga 15 hari dalam sebulan. Pemakaian suntik botox untuk mengobati migrain telah mendapat persetujuan dari FDA (Food and Drug Administration).

(up/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads