Selasa, 18 Mar 2014 12:16 WIB

Ini Mitos tentang Uban yang Keliru Tapi Banyak Dipercaya Orang

- detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Ketika uban mulai bertumbuhan, sebagian orang akan merasa panik karena merasa usianya tak muda lagi. Padahal uban tidak identik dengan penuaan.

Setidaknya ada banyak mitos tentang uban yang sebenarnya keliru tapi terlanjur banyak dipercaya orang. Untuk meluruskannya, simak tentang beberapa mitos yang dimaksud, seperti halnya dikutip dari Huffingtonpost, Selasa (18/3/2014) berikut ini.

1. Satu dicabut, dua-tiga uban akan tumbuh lagi
Ini adalah mitos yang salah kaprah. Yang benar adalah mencabut uban memang akan menghilangkan rambut putih namun tidak dengan folikelnya sehingga dari situ akan tumbuh rambut baru.

Lagipula apapun yang dilakukan seseorang pada satu helai rambutnya takkan berpengaruh terhadap rambut lain di sekitarnya. Hanya saja seorang pakar memperingatkan hati-hati ketika mencabut uban karena ini bisa mengakibatkan kerusakan permanen pada folikel sehingga Anda mungkin takkan punya rambut lagi dari folikel tersebut.

2. Stres menyebabkan timbulnya uban
Seorang dokter kulit bernama Howard Brooks menerangkan stres tidaklah menyebabkan timbulnya uban secara langsung, tapi kerontokan rambut yang tidak permanen atau biasa disebut 'telogen effluvium'.

Telogen effluvium inilah yang membuat rambut rontok dan ketika tumbuh kembali, biasanya rambut yang dihasilkan tidak memiliki pigmen sebanyak rambut aslinya sehingga berwarna keputihan seperti uban.

3. Ada tidaknya uban tergantung orang tua
Seorang pakar lain bernama Elizabeth Cunnane Phillips menerangkan timbulnya rambut putih ternyata dipengaruhi oleh kondisi genetik, kendati gaya hidup tertentu dapat mempercepat munculnya uban ini.

Selain itu, etnis juga tampaknya berperan dalam hal ini. Pasalnya Kaukasian (orang kulit putih) cenderung lebih cepat beruban ketimbang orang Asia atau orang kulit hitam.

4. Teori 50-50-50 tentang uban tak begitu akurat
Sebagian dokter kulit percaya 50 persen populasi ketika mencapai usia 50 tahun diprediksi memiliki uban di rambutnya dengan komposisi mencapai 50 persen.

Namun sebuah survei di tahun 2012 membantah teori ini dan menemukan hanya 6-23 persen populasi saja yang memiliki uban di usia 50 tahun.

5. Pewarnaan rambut berlebihan sebabkan uban
Biasanya alasan ini dipakai para orang tua agar anak-anaknya tak berani mengecat rambutnya atau bahkan gonta-ganti warna rambut. Padahal ini sama sekali tak ada hubungannya.

6. Terpapar matahari percepat munculnya uban
Paparan sinar matahari yang berlebihan memang mengakibatkan kulit menua dan keriput, tapi tidak ada pengaruhnya dengan rambut. Di tahun 2009, sekelompok peneliti dari Eropa menemukan mekanisme yang sebenarnya di balik munculnya uban.

Jadi sebenarnya sel-sel rambut secara alami memproduksi zat yang disebut hidrogen peroksida, namun jika produksinya berlebihan maka rambut berubah menjadi keputihan. Ini akan tetap terjadi terlepas berapapun usia Anda karena setiap orang menghasilkan zat yang sama.

"Tapi bukan berarti pakai topi jika keluar rumah atau jarang keluar akan mencegah hal ini. Karena ini semata disebabkan apa yang terjadi di dalam sel, tidak dipengaruhi faktor eksternal," tegas peneliti Gerald Weissman.

Kendati begitu, pakar lain bernama Philip Kingsley mengatakan uban lebih rentan mengalami kerusakan jika terpapar matahari karena kurangnya melanin yang terkandung di dalamnya. Jadi tetap pakai topi saja jika keluar rumah.

7. Pilihan gaya hidup juga pengaruhi uban
Untuk mencegah munculnya uban dini, ada beberapa gaya hidup yang bisa dipilih. Salah satu yang disepakati dokter adalah rendahnya kadar B12 (asam pantotenik) dalam tubuh, karena ini menyebabkan berkurangnya pigmen rambut sehingga uban cepat muncul.
 
Begitu juga dengan merokok. Sebuah studi di tahun 2013 memastikan ada kaitan antara kebiasaan merokok dengan perokok yang rambutnya memutih, bahkan sebelum usianya mencapai 30 tahun.



(lil/vit)