Tabir surya harusnya dikombinasikan dengan sarana pelindung lain seperti mengenakan topi dan kacamata serta memakai baju lengan panjang agar orang yang bersangkutan tidak berisiko terkena kanker kulit, terutama yang paling mematikan, malignant melanoma.
Meskipun riset mereka baru sebatas pada hewan percobaan, yakni tikus, peneliti dari University of Manchester ini yakin telah menemukan bahwa sinar matahari ternyata tak hanya merusak DNA dalam sel-sel kulit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tabir surya memang dapat mengurangi jumlah DNA yang rusak karena terkena UV, tapi temuan studi ini memperlihatkan betapa bahaya sinar UV ini," papar Prof Richard Marais yang memimpin studi ini seperti dikutip dari BBC, Jumat (13/6/2014).
Senada dengan pernyataan Prof Marais, Dr Julie Sharp dari Cancer Research UK mengatakan orang-orang sendiri juga merasa takkan terkena dampak buruk dari berjemur atau terkena matahari bila sudah memakai tabir surya. Jadi mereka asyik-asyik saja berlama-lama di bawah sinar matahari.
"Dengan begitu studi ini menambah bukti bahwa tabir surya memang tidak bisa dijadikan satu-satunya pelindung utama kulit Anda. Biasakan memakai tabir surya, topi, kacamata dan baju lengan panjang bila keluar rumah, dan usahakan untuk tidak terbakar matahari karena kalau sudah begini jelas DNA dalam sel kulit Anda sudah rusak, dan dari waktu ke waktu ini bisa jadi kanker kulit," tegasnya.











































