Negara lain yang 'terserang' tren serupa adalah Singapura. Tingkat obesitas di negeri singa ini mulai merangkak naik hingga mencapai 13-14 persen di tahun 2010. Padahal di tahun 2004, angkanya baru 8,6 persen.
"(Untuk itu), obesitas menjadi prioritas bagi pemerintah. Apalagi bila obesitas telah menjangkiti sejumlah populasi, ini bisa jadi lebih dari sekadar norma, kemudian dunia bisnis dan infrastruktur mengakomodasi hal ini, menyulapnya menjadi gaya hidup," tutur kepala eksekutif Health Promotion Board Singapura, Zee Yoong Kang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas apa saja yang telah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi hal ini? Pertama, sebagian besar fasilitas penitipan anak hanya menyediakan beras merah sebagai menu makan. Kedua, banyak apartemen yang memasang rambu-rambu khusus agar penghuninya memilih menggunakan tangga ketimbang lift.
Bahkan pemerintah Singapura juga bekerjasama dengan sejumlah organisasi untuk mempromosikan hidup sehat seperti Fitness First, termasuk dengan McDonald's.
"Memang lebih aman untuk mengatakan jangan makan di McDonald's, tapi manfaatnya akan lebih riil dan berdampak positif bila kami bekerjasama dengan McDonald's untuk memperbaiki produk yang mereka jual atau menambah opsi menu mereka," papar Zee seperti dikutip dari Reuters, Jumat (13/6/2014).
Baru-baru ini negara yang pasang target untuk setidaknya dapat menstabilkan angka penderita obesitas mereka di tahun 2020 itu juga bersiap meluncurkan 700 gerai makanan yang hanya menyediakan makanan dengan kandungan tak lebih dari 500 kalori.
Tahun ini, Singapura juga berencana menelurkan inisiatif lain untuk mendorong masyarakatnya agar lebih banyak melakukan aktivitas fisik, meski belum dijelaskan akan seperti apa konsepnya.
Indonesia, siap meniru?










































