Selasa, 19 Mei 2015 14:36 WIB

Kata Ilmuwan Jerman, BAB Jongkok Lebih Sehat

Rahma Lilahi Sativa - detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock) Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Frankfurt -

Pada masyarakat modern, buang air besar banyak dilakukan dengan menggunakan WC duduk. Selain dianggap lebih praktis, risiko nyeri punggung dan 'kecipratan' juga akan lebih kecil bila memakai WC duduk. Namun nyatanya hal ini ditentang ilmuwan dari Barat.

Giulia Enders, kandidat doktor mikrobologi dari Frankfurt, Jerman ini menemukan bahwa buang air besar yang efisien adalah dalam posisi berjongkok, bukannya duduk seperti yang selama ini dilakukan masyarakat moderen, terutama di Eropa.

Baca juga: Masih BAB Sembarangan, Warga Secang Kulonprogo Rentan Terserang Penyakit

"Sebab usus tidak dirancang untuk membuka sepenuhnya bilamana kita duduk atau berdiri. Bila kita duduk, maka proses keluarnya feses tadi akan menjadi semakin lama," terang Enders dalam bukunya, Darm mit Charme (Charming Bowels).

Buku ini sendiri kemudian menjadi hit di Jerman dan terjual lebih dari 200.000 kopi. Di sisi lain, kondisi itulah yang kemudian dikatakan Enders menjadi penyebab mengapa orang Eropa atau Amerika rentan terkena hemorrhoid atau wasir dan gangguan usus seperti diverkulitis (radang pada saluran pencernaan).

"Jongkok, seperti yang dilakukan orang-orang di Asia, adalah posisi buang air yang lebih alami karena feses akan keluar dengan mudah. Sedangkan kita di Barat menekan usus dan pantat kita sedemikian rupa agar fesesnya keluar," jelasnya seperti dikutip dari Mirror, Selasa (19/5/2015).

Jangan heran bila 1,2 miliar orang di dunia yang melakukan BAB jongkok jarang dilaporkan mengidap wasir atau gangguan usus sejenis, tambahnya. Kendati begitu Enders meyakini sulit bagi masyarakat moderen untuk mengubah caranya buang air besar dari yang duduk menjadi jongkok. Ini semata soal kebiasaan yang telah diajarkan sejak kecil.

Di buku yang sama, gadis yang masih berumur 25 tahun itu mengungkapkan ada keterkaitan yang nyata antara kondisi usus seseorang dengan kesehatan mentalnya. Hal ini didasarkan pada pengalaman pribadinya saat bertemu dengan seorang pria yang mempunyai bau mulut sangat busuk. Tak disangka, beberapa saat kemudian si pria bunuh diri.

Pernyataan kontroversial lain yang dikemukakan Enders adalah usus buntu diklaim mengandung banyak bakteri baik yang bermanfaat bagi kesehatan, meski nyatanya kerap dibuang. Selain itu, mengonsumsi makanan sehat dikatakan akan meningkatkan kadar 'obat pereda nyeri' alami dalam tubuh, yang konon terkandung dalam air ludah manusia.

Baca juga: Toilet Duduk vs Jongkok, Mana yang Lebih Sehat?



(Rahma Lilahi Sativa/Nurvita Indarini)