Masih Pakai Timbangan? Ini Dia 12 Cara Hitung Komposisi Lemak Tubuh (1)

Masih Pakai Timbangan? Ini Dia 12 Cara Hitung Komposisi Lemak Tubuh (1)

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Senin, 21 Sep 2015 10:09 WIB
Masih Pakai Timbangan? Ini Dia 12 Cara Hitung Komposisi Lemak Tubuh (1)
Foto: Thinkstock
Jakarta - Timbangan biasa masih bisa diandalkan untuk mengukur bobot ideal, tapi sayang tidak bisa memperkirakan komposisi lemak tubuh. Padahal kurus pun bisa jadi tidak ada ototnya, tetapi lemak semua.

Indeks massa tubuh (IMT) masih banyak dipakai sebagai patokan untuk menentukan status kesehatan. Jika perbandingan berat badan dengan tinggi badannya terlalu tinggi, maka seseorang disebut obesitas dan karenanya rentan penyakit.

Tidak sepenuhnya salah, tetapi indeks tersebut tidak memperhitungkan komposisi lemak tubuh. Sebagai contoh, seorang binaragawan cenderung punya IMT tinggi tetapi tetap sehat karena komposisi berat badannya didominasi otot. Tentu saja berbeda ketika IMT-nya karena banyak lemaknya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dirangkum dari Huffingtonpost, Senin (21/9/2015), berikut ini beberapa cara memperkirakan komposisi lemak tubuh. Harap dicatat, sebagian di antaranya memang tidak terlalu dianjurkan meski tidak ada salahnya untuk sekedar diketahui.

1. IMT

Foto: Thinkstock
Lho gimana sih, katanya IMT (Indeks Massa Tubuh) tidak berdasarkan komposisi lemak tubuh? Memang iya, dan karenanya cara ini tidak terlalu dianjurkan dan sudah banyak ditinggalkan. Menurut penelitian tahun 2012 di International Journal of Obesity, 29 persen orang dengan IMT normal ternyata punya komposisi lemak setara obesitas.

Tapi untuk sekedar memperkirakan bobot ideal, tidak ada salahnya cara ini dijadikan patokan kasar. Kalkulator untuk menghitung IMT bisa dilihat melalui tautan berikut ini.

3. Celah di antara paha

Foto: Thinkstock
Pernah ngetren di tahun 2013, seseorang dianggap langsing jika bisa berdiri dengan kaki rapat dan masih ada celah di antara kedua paha.

Apakah benar? Charlie Seltzer dari American Board of Obesity Medicine meragukan hal itu. Menurutnya, ada tidaknya celah di antara kedua paha saat berdiri dengan kaki rapat juga dipengaruhi oleh struktur tulang dan otot.  Dikhawatirkan, celah ini justru menunjukkan seseorang terlalu kurus dan bukan langsing ideal.

4. Rasio lingkar pinggang dan pinggul

Foto: Thinkstock
Sebuah penelitian di European Heart Journal menemukan bahwa lingkar pinggang dan pinggul bersama-sama bisa menunjukkan risiko penyakit jantung. Jika perbandingan atau rasio keduanya lebih dari 0,8 maka seseorang punya risiko lebih tinggi.

Rasio ini dinilai cukup akurat, dan karenanya banyak dianjurkan sebagai kombinasi untuk memperkirakan risiko penyakit jantung. Namun jarang digunakan sebab bagi sebagian dokter yang mungkin terlalu sibuk, jika lingkar pinggang yang besar saja sudah menunjukkan risiko, buat apa harus repot-repot membandingkannya dengan pinggul?

5. Bentuk perut

Foto: Thinkstock
Jika perut Anda sixpack, maka biasanya komposisi lemak Anda akan bagus. Kebanyakan, anggapan ini benar sebab lemak di bawah kulit perut mencerminkan lemak yang ada di bagian yang lebih dalam. Tapi jangan terlalu khawatir jika tidak punya sixpack, yang penting tidak buncit.

6. Tantangan pegang pusar

Foto: Thinkstock
Lingkarkan salah satu tangan ke belakang, jika Anda masih bisa meraih pusar maka Anda terbilang langsing. Sama seperti celah paha, cara ini juga pernah ngetren. Namun apakah benar-benar akurat?

Celakanya tidak. Tantangan ini hanya menunjukkan seberapa fleksibel tubuh seseorang, tidak lebih. Banyak jika terlalu dipercaya, dikhawatirkan akan memicu gangguan makan akibat terobsesi ingin kurus.
Halaman 2 dari 6
Lho gimana sih, katanya IMT (Indeks Massa Tubuh) tidak berdasarkan komposisi lemak tubuh? Memang iya, dan karenanya cara ini tidak terlalu dianjurkan dan sudah banyak ditinggalkan. Menurut penelitian tahun 2012 di International Journal of Obesity, 29 persen orang dengan IMT normal ternyata punya komposisi lemak setara obesitas.

Tapi untuk sekedar memperkirakan bobot ideal, tidak ada salahnya cara ini dijadikan patokan kasar. Kalkulator untuk menghitung IMT bisa dilihat melalui tautan berikut ini.

Pernah ngetren di tahun 2013, seseorang dianggap langsing jika bisa berdiri dengan kaki rapat dan masih ada celah di antara kedua paha.

Apakah benar? Charlie Seltzer dari American Board of Obesity Medicine meragukan hal itu. Menurutnya, ada tidaknya celah di antara kedua paha saat berdiri dengan kaki rapat juga dipengaruhi oleh struktur tulang dan otot.  Dikhawatirkan, celah ini justru menunjukkan seseorang terlalu kurus dan bukan langsing ideal.

Sebuah penelitian di European Heart Journal menemukan bahwa lingkar pinggang dan pinggul bersama-sama bisa menunjukkan risiko penyakit jantung. Jika perbandingan atau rasio keduanya lebih dari 0,8 maka seseorang punya risiko lebih tinggi.

Rasio ini dinilai cukup akurat, dan karenanya banyak dianjurkan sebagai kombinasi untuk memperkirakan risiko penyakit jantung. Namun jarang digunakan sebab bagi sebagian dokter yang mungkin terlalu sibuk, jika lingkar pinggang yang besar saja sudah menunjukkan risiko, buat apa harus repot-repot membandingkannya dengan pinggul?

Jika perut Anda sixpack, maka biasanya komposisi lemak Anda akan bagus. Kebanyakan, anggapan ini benar sebab lemak di bawah kulit perut mencerminkan lemak yang ada di bagian yang lebih dalam. Tapi jangan terlalu khawatir jika tidak punya sixpack, yang penting tidak buncit.

Lingkarkan salah satu tangan ke belakang, jika Anda masih bisa meraih pusar maka Anda terbilang langsing. Sama seperti celah paha, cara ini juga pernah ngetren. Namun apakah benar-benar akurat?

Celakanya tidak. Tantangan ini hanya menunjukkan seberapa fleksibel tubuh seseorang, tidak lebih. Banyak jika terlalu dipercaya, dikhawatirkan akan memicu gangguan makan akibat terobsesi ingin kurus.

(up/up)

Berita Terkait