Raquel B Dardik, MD, profesor klinis dari Departemen Obstetri dan Ginekologi NYU Langine Medical Centre menuturkan pakaian dalam, khususnya celana dalam yang terlalu ketat dapat memicu gesekan kulit dan iritasi di bagian vagina. Terutama bagi wanita yang sudah menopause.
"Pada wanita yang sudah menopause, dinding vagina mereka cenderung tipis. Nah, penggunaan pakaian yang terlalu ketak malah bisa menggesek kulit di vagina tau sekitarnya hingga menyebabkan iritasi serta luka dan lecet," tutur Dardik, seperti dikutip dari Huffington Post pada Selasa (20/10/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, jika memang tidak ada masalah, menggunakan celana dalam yang ketat dikatakan Dardik sah-sah saja. Meskipun, ia lebih menyarankan para wanita menggunakan pakaian dalam yang pas dan nyaman. Lantas, bagaimana jika wanita kerap menggunakan pakaian dalam yang pas dengan bentuk tubuh?
Menurut pakar kesehatan perempuan, Donnica Moore, MD, pakaian dalam yang pas dengan tubuh seperti korset pinggang, perut, dan punggung bisa menimbulkan risiko komplikasi. Misalnya saja tubrukan saraf dan terhambatnya sirkulasi darah. Akibatnya, bisa timbul mati rasa atau kesemutan.
"Selain itu, shapewear amat sulit dilepaskan. Sehingga, Anda bisa saja kesulitan saat akan ke kamar mandi dan yang terjadi, Anda tetap memakai shapewear dengan durasi lebih dari yang seharusnya," tutur Moore.
Begitu pula untuk bra. Penggunaan bra yang terlalu ketak juga bisa menghalangi sirkulasi darah. Kemudian, muncul pula masalah terkait pigmentasi dan iritasi kulit. Selain itu, jika seseorang menggunakan bra ketat secara terus menerus, bia menyebabkan penyumbatan limfatik, termasuk edema atau akumulasi cairan di payudara.
Baca juga: Studi: Bra Justru Bikin Payudara Lebih Cepat Kendur
(rdn/up)











































