Selasa, 26 Jan 2016 20:00 WIB

Penelitian Ini Mengaitkan KB dengan Perilaku Seks Wanita

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Foto: Thinkstock
Denpasar, Bali - Salah satu masalah dalam program KB (Keluarga Berencana) adalah tingginya 'unmet need' kebutuhan alat kontrasepsi yang tidak terpenuhi. Sebuah penelitian mengaitkan masalah tersebut dengan perilaku seks wanita.

Menurut penelitian tersebut, wanita usia subur yang menggunakan kontrasepsi cenderung lebih sering berhubungan seks. Dibandingkan kelompok yang tidak menggunakan kontrasepsi, kecenderungan untuk berhubungan seks secara teratur tercatat 3 kali lebih besar.

"Kami ingin wanita punya kehidupan seksual yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih aman, dengan memisahkan seks dengan kehamilan dan kelahiran anak. Kontrasepsi mewujudkan hal itu," kata Suzzane Bell, BPH, ilmuwan dari John Hopkins Bloomberg School of Public Health yang melakukan penelitian tesebut.

Dalam penelitiannya, Bell dan rekannya David Bishai, MD, PhD menganalisis sejumlah survei demografi dan kesehatan yang melibatkan 210.000 wanita dari 467 negara termasuk Indonesia. Seluruh partisipan merupakan wanita usia subur, berpasangan (menikah) dan aktif secara seksual.

Salah satu yang ditanyakan dalam survei tersebut adalah riwayat berhubungan seks. Pada kelompok responden yang menggunakan kontrasepsi, 90 persen pernah berhubungan seks dalam 4 pekan terakhir. Sementara pada kelompok yang tidak memakai kontrasepsi, angkanya hanya 72 persen.

Baca juga: Remaja Bicara KB, Nikah Dini dan Kesehatan Reproduksi

Republik Benin di Afrika bagian barat dalam penelitian tersebut tercatat sebagai negara yang penduduk wanitanya paling malas bercinta. Hanya 61 persen dari responden yang melakukan hubungan seks dalam 4 pekan terakhir, disusul Leshoto di Afrika bagian selatan dengan 68 persen.

Di timur tengah, Yordania menempati peringkat paling tinggi dengan 94 persen. Menyusul di bawahnya adalah Rwanda di Afrika bagian timur, dengan 92 persen responden yang mengaku berhubungan seks dalam 4 pekan terakhir.

Penelitian yang dipresentasikan dalam ICFP (International Conference on Family Planning) 2016 ini mengungkap bahwa unmet need atau kebutuhan alat kontrasepsi yang tidak terpenuhi membuat sebagian wanita mengurangi frekuensi berhubungan seks. Sebaliknya, ada sebagian pula yang tidak menggunakan kontrasepsi yang memang jarang berhubungan seks.

Baca juga: Ini Untungnya Sosialisasikan Kesehatan Seksual di Pasar Tradisional


(up/vit)