Minggu, 11 Sep 2016 09:24 WIB

Dilema Saat Libur: Tidur Vs Olahraga, Mana Sih yang Lebih Sehat?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Dalam kesehariannya, beberapa orang begitu sibuk sampai-sampai tidak sempat memiliki istirahat yang cukup. Akhir pekan jadi satu-satunya kesempatan untuk menebus kekurangan tidur. Lalu kapan dong olahraganya?

Idealnya, orang dewasa butuh tidur selama 6-8 jam dalam sehari. Namun gaya hidup di perkotaan membuat beberapa orang sulit memenuhi kebutuhan tersebut, karena waktunya habis di jalan untuk menembus kemacetan. Bisa tidur 3-4 jam dalam sehari, rasanya sudah sangat mewah.

Celakanya, kurang tidur banyak dikaitkan dengan risiko penyakit mematikan. Berbagai penelitian menyebut risiko diabetes dan serangan jantung meningkat pada orang-orang yang tidurnya kurang dari 8 jam dalam sehari. Bahkan, beberapa jenis kanker juga dikaitkan dengan kondisi ini.

Di sisi lain, orang-orang tersebut juga juga kurang bergerak. Walau jarang tidur, kenyataannya sebagian besar waktunya dalam sehari dihabiskan dengan duduk di depan komputer, kemudian sisanya untuk duduk berjam-jam di kendaraan dalam perjalanan dari dan menuju tempat tinggalnya.

Libur panjang seperti sekarang ini banyak dijadikan kesempatan untuk menebus berbagai kondisi tidak ideal tersebut. Persoalannya, tidur dan olahraga tidak bisa dikerjakan bersamaan. Pilihan yang akhirnya sering diambil adalah tidur seharian, dan akhirnya tidak jadi olahraga.



Baca juga: Mau Langsing? Yuk Olahraga! Studi Ungkap Banyak Gerak Turunkan Nafsu Makan

Sebelum bingung menentukan pilihan, simak dulu fakta berikut. Menurut para pakar, tidur seharian saat libur tidak terlalu bermanfaat untuk menebus kekurangan tidur sehari-hari. Tidur terlalu lama dalam satu waktu hanya akan membuat tubuh terasa lemas, denyut jantung menurun, dan seperti kehilangan semangat hidup. Maka untuk mendapatkan manfaat yang optimal, mau tidak mau pola tidur harus diperbaiki.

Terlalu sibuk tidak bisa dijadikan alasan karena hal itu memang tidak terhindarkan. Yang bisa dilakukan adalah mengatur siasat, antara lain dengan curi-curi waktu untuk tidur siang. Di sela-sela bekerja, atau selama dalam perjalanan. Itu pula sebabnya, naik kendaraan umum lebih dianjurkan karena tidak mungkin tidur saat sedang berkendara.

Fakta berikutnya adalah, menghabiskan waktu seharian untuk olahraga juga akan berdampak pada kelelahan otot yang berlebihan. Organisasi kesehatan dunia WHO menganjurkan aktivitas fisik dengan intensitas sedang selama 150 menit dalam sepekan, yang artinya hanya sekitar 30 menit dalam sehari. Kesimpulannya, waktu sehari sudah lebih dari cukup untuk bisa mengerjakan keduanya sekaligus: tidur dan olahraga.

Baca juga: Lupakan Diet Ketat, Utamakan Olahraga Kalau Mau Turun Berat Badan (up/up)