Di Periode Emas si Kecil, Ortu Perlu Berhati-hati dalam Berucap dan Bertindak

Di Periode Emas si Kecil, Ortu Perlu Berhati-hati dalam Berucap dan Bertindak

- detikHealth
Kamis, 26 Jun 2014 17:30 WIB
Di Periode Emas si Kecil, Ortu Perlu Berhati-hati dalam Berucap dan Bertindak
illustrasi (thinkstock)
Jakarta -

Namanya juga anak-anak, pasti mereka akan mencontoh apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya terutama selama masa tumbuh kembangnya. Oleh karena itu, di periode tumbuh kembang anak, para orang tua harus berhati-hati dalam berucap dan bertindak lho.

Dikatakan dokter spesialis tumbuh kembang Anak Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi, proses pembelajaran anak terjadi ketika ia mendengar, melihat, dan meraba apa yang ada di sekitarnya. Lalu, apa yang ia dapatkan akan diingat, disimpan, digabungkan dan diekspresikan dalam bentuk psikomotor (omongan atau tindakan).

"Bayangkan kalau yang ditunjukkan orang tua adalah hal-hal yang jelek, pasti anak juga akan meniru. Nah, hal itu diulang terus nantinya akan menjadi kebiasaan. Makanya, contohkan pada anak nilai kasih sayang, toleransi, kesabaran, dan hal-hal terpuji lainnya," kata dr Miko, begitu ia akrab disapa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nah, penanaman nilai tersebut bisa diselipkan dalam proses pembelajaran anak, termasuk ketika orang tua memberi stimulasi pada anak dengan bermain, mengajarkan sesuatu, atau melakukan aktivitas fisik bersama si kecil, demikian dikatakan dr Miko dalam Konferensi Pers 'Nestlé DANCOW Excel+ Perkenalkan Program 'StimuLearn' di Crowne Plaza Hotel, Jakarta, Kamis (26/6/2014).

Proses pembelajaran kognitif anak secara sederhana adalah kolaborasi mata, telinga, otak, tangan, mulut, dan kaki. Artinya, informasi yang didapat anak akan diolah di otak lalu diekspresikan lewat mulut, tangan, dan kaki berupa tindakan atau karya. Lalu, bagaimana caranya agar kolaborasi mata, telinga, otak, mulut, tangan, dan kaki siap berkembang?

"Penuhi nutrisi lengkap seimbang, supaya komponen organ tubuhnya bisa bekerja optimal seperti lensa pada mata, gendang telinga, dan otak agar mampu memproses informasi. Kalau nutrisi nggak cukup sejak di kandungan, fungsi tadi nggak berkembang baik," kata dr Miko.

dr Miko menambahkan, dengan nutrisi lengkap dan seimbang, struktur otak menjadi canggih. Ditambah stimulasi bermain untuk merangsang kemampuan kognitif dan peran orang tua, maka anak akan berkembang dari segi kognitif dan kepribadiannya. dr Miko juga mengingatkan jangan lupa beri pujian sekecil apapun terhadap kemampuan anak.

"34,3 persen penduduk Indonesia adalah anak yaitu yang berusis 18 tahun ke bawah. Di usia 0-8 tahun yang merupakan golden age, tak hanya mencukupi gizi anak saja tetapi stimulasi juga harus terpenuhi sejak dini," kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar yang turut hadir dalam acara tersebut.

(up/up)

Berita Terkait