Agar Anak Berkualitas, Disarankan Dibentuk Kelas Khusus Calon Orang Tua

Agar Anak Berkualitas, Disarankan Dibentuk Kelas Khusus Calon Orang Tua

- detikHealth
Selasa, 23 Des 2014 12:54 WIB
Agar Anak Berkualitas, Disarankan Dibentuk Kelas Khusus Calon Orang Tua
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Mengakhiri tahun 2014, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengadakan diskusi dengan para akademisi membicarakan pembangunan keluarga yang telah dilakukan selama ini. Hasil diskusi diharapkan dapat menjadi masukan untuk program BKKBN tahun berikutnya.

Salah satu sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) yang hadir di acara, Dr Imam Prasodjo, PhD, mengatakan pembangunan keluarga saat ini harus ditekankan pada pembentukan karakter. Orang tua harus bisa mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang berkualitas.

Meski demikian, saat ini pendidikan yang diterima para calon orang tua dikatakan oleh Imam masih kurang. Akibatnya sulit bagi keluarga untuk menciptakan anak yang berkualitas karena orang tua tidak mengerti tanggung jawabnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Negeri ini harusnya ada coach parenting. Kalau sekarang ini yang ada cuma nasihat perkawinan dan hanya 10 menit yang bisa dihapal. Ini tidak mungkin menjadikan keluarga siap apalagi dalam kaitannya mengemban tugas revolusi mental," kata Imam saat berdiskusi di BKKBN, Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Selasa (23/12/2014).

Revolusi mental yang dimaksud Imam adalah bagaimana keluarga dapat menanamkan nilai-nilai mental pada anak agar dapat tumbuh menjadi manusia berguna. Ia mengatakan ada 6 nilai yang setidaknya harus ditanam pada anak seperti jujur, adil, bertanggung jawab, rasional, toleran, dan berani.

Oleh karena banyaknya nilai yang harus ditanam agar generasi mendatang makin baik, Imam menyarankan agar pendidikan calon orang tua saat ini diperlukan.

"Kalau perlu buat ada kelasnya khusus atau masukan sekalian ke dalam kurikulum," ujar Imam.

"Saya melihat keluarga itu dimulai dengan adanya perkawinan. Kalau keluarga itu dimulai dengan ketidaksucian misal menikah karena kecelakaan. Itu nanti tidak mengerti apa tugas dan tidak ada tanggung jawabnya," pungkasnya.

(vit/vit)

Berita Terkait