Lingkungan tetangga yang buruk dan kurangnya kesempatan anak untuk mengembangkan diri diduga menjadi alasan anak laki-laki bergabung dengan geng. Namun, penelitian baru menemukan bahwa dorongan untuk bergabung dengan geng ternyata dipengaruhi oleh adanya faktor gen.
Anak laki-laki memiliki variasi genetik dari monoamine oksidase A (MAOA) atau warrior gene, yang memicu keinginannya untuk masuk ke geng. Gen itu juga memberikan kecenderungan untuk menjadi anggota kekerasan. Berdasarkan penelitian, anak laki-laki dengan variasi MAOA juga cenderung lebih suka menggunakan kekerasan dan senjata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun penelitian ini telah melibatkan laki-laki dan perempuan, namun hanya pada laki-laki varian gen MAOA ini menunjukkan ke arah kekerasan. Varian gen ini memiliki efek yang sedikit pada perempuan, mungkin karena gen MAOA ini terletak di kromosom X.
"Laki-laki memiliki 1 kromosom X dan 1 kromosom Y, yang berarti hanya memiliki satu kopian gen, sedangkan pada perempuan memiliki 2 kromosom X," ujar Beaver.
"Jadi, jika seorang laki-laki memiliki varian untuk gen MAOA maka langsung dihubungkan dengan kekerasan, sedangkan pada perempuan jika hanya satu yang memiliki varian gen MAOA, masih ada satu kromososm X lagi yang menutupinya," tambahnya.
Hal inilah yang menyebabkan penelitian gen MAOA dan kemungkinan efek dari gen MAOA ini lebih difokuskan pada laki-laki, karena paling banyak dideteksi pada kaum laki-laki.












































