Peneliti di AS mengatakan anak-anak yang dirawat dengan pola radiasi penuh ke tubuh atau radiasi abdominal yang dilakukan untuk menyingkirkan kankernya, memiliki risiko tinggi terkena diabetes sepanjang hidupnya nanti.
Anak-anak penderita kanker mengalami kehidupan yang lebih baik dengan melakukan terapi untuk menghilangkan penyakitnya. Namun perawatan kesehatan itu ternyata memiliki risiko dalam kehidupan mereka ketika besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah melakukan kajian terhadap faktor-faktor risiko lainnya, termasuk body mass index (indeks bobot tubuh) peneliti menemukan anak bekas penderita kanker memiliki 1,8 kali ancaman risiko diabetes.
Banyaknya radiasi yang telah digunakan, menjadi faktor terbesar munculnya ancaman risiko diabetes. Perawatan radiasi secara total terhadap anak-anak penderita leukemia adalah ketika mereka mendapat perawatan transplantasi sumsum tulang dan ternyata anak-anak ini memiliki risiko diabates yang bisa mencapai 7 kali lebih besar.
Anak-anak penderita kanker juga memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap ancaman penyakit jantung dan ginjal. Sebuah studi yang dilakukan tahun lalu, menemukan adanya risiko terkena serangan jantung dari 5 menjadi 10 kali terhadap anak korban kanker dibandingkan saudara sekandungnya.
"Jadi penting bagi rumah sakit untuk mengenali risiko ini, pemeriksaan untuk diabetes dan pra-diabetes yang tepat adalah strategi untuk mengurangi risiko ini," katanya seperti ditulis dalam Archives of Internal Medicine yang dilansir Reuters, Selasa (11/8/2009).
Para peneliti mengaku masih membutuhkan kajian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana radiasi tersebut bisa memicu diabates terhadap anak korban kanker.












































