Kenali Tanda Anak Kurang Gizi

Kenali Tanda Anak Kurang Gizi

- detikHealth
Selasa, 25 Agu 2009 15:36 WIB
Kenali Tanda Anak Kurang Gizi
Jakarta - Masalah anak yang kekurangan gizi bukanlah masalah yang baru, tapi sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Seringkali anak yang kurang gizi dihubungkan dengan kemiskinan keluarga. Untuk itu kenali tanda-tanda klinis anak kekurangan gizi.

Saat ini hampir 18 persen balita di Indonesia mengalami kekurangan gizi dalam arti berat badannya tidak sesuai atau berada di bawah normal bila dibandingkan dengan usianya. Hal ini biasanya dikarenakan oleh faktor kemiskinan keluarga tapi juga ada yang karena faktor orang tua yang malas mengolah makanan untuk anaknya atau tidak tahu kebutuhan gizi apa yang harus dipenuhi oleh anaknya tersebut.

"Tanda anak kekurangan gizi adalah rambut kusam, kering, pucat, bibir dan mulut bengkak, otot kurus, nyeri, lemah, sering kejang-kejang, tulang sendi ada penebalan dan terasa ngilu," ujar Dr. Rachmi Untoro, MPH dalam acara PT Nestle "Turut Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Lebih Sehat" di Hotel Gran Melia, Jakarta, Selasa (25/8/2009).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dr. Rachmi juga meambahkan masalah kekurangan gizi bukanlah kejadian yang terjadi dalam waktu semalam, tapi bisa terjadi sejak bayi berada dalam kandungan ibunya. Selain itu, kekurangan gizi juga menyebabkan kualitas IQ seorang anak menurun, karena sejak masih dalam kandungan hinggi anak berusia 3 tahun otaknya sudah tumbuh dan berkembang kurang lebih sebesar 80 persen.

"Biasanya anak mulai mengalami kekurangan gizi diatas usia 6 bulan, karena anak sudah tidak mendapat ASI eksklusif lagi," ujar Dr. Rachmi yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah kekurangan gizi terutama zat mikro seperti kekurangan zat besi, iodium dan vitamin A pada anak, telah dilakukan program fortifikasi makanan.

"Fortifikasi adalah penambahan zat gizi ke dalam pangan yang telah memenuhi kriteria tertentu sehingga makanan tersebut memiliki nilai gizi dan diberikan pada populasi tertentu," ujar Prof. Dr. M. Aman Wirakartakusumah.

Fortifikasi ini bisa berupa menambahkan kandungan vitamin A pada tepung terigu atau menambahkan zat iodium pada garam dan beberapa makanan tertentu lainnya. Program ini dinilai efektif jika populasi target tersebut zat gizinya sudah menjadi lebih baik. Selain itu makanan yang mengalami fortifikasi harus mudah didapat dan tidak boleh mengganggu zat essensial yang sudah terkandung dari makanan itu sendiri.

Dr Aman juga menambahkan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam proses fortifikasi yaitu teknologi pengolahannya, cara penambahan zat tersebut ke dalama makanan dan proses penyimpanannya agar tidak merusak makanan.

Dalam hal memberantas masalah gizi di Indonesia semua pihak harus ikut bertanggung jawab, bukan hanya dari pemerintah saja. Karena peran orang tua juga sangat penting dalam memberikan nutrisi pada anaknya.

Rekomendasi Obat


img

Indo Penurun Panas Anak

www.indofarma.co.id
(ver/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads