Peneliti dari Norwegia menunjukkan bahwa wanita hamil yang melakukan olahraga secara teratur, memiliki risiko lebih kecil untuk melahirkan bayi dengan berat badan berlebih. Hal ini tidak bergantung pada berapa banyak olahraga yang dilakukan si ibu saat sebelum hamil.
Wanita yang melahirkan bayi dengan berat badan berlebih dalam arti memiliki berat badan lebih dari 4 kg atau 8 pon, tanpa memperhitungkan berapa panjangnya, berisiko memiliki sejumlah komplikasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian ini melibatkan 36.869 ibu dengan kehamilan tunggal berdasarkan data dari Norwegian Mother and Child Cohort Study dan Medical Birth Registry of Norway. Diantara wanita hamil tersebut dilaporkan wanita yang berolahraga setidaknya 3 kali seminggu setelah usia kehamilannya mencapai 17 minggu, menurunkan risiko melahirkan bayi dengan berat badan berlebih sebesar 25 persen.
Sedangkan perempuan yang berolahraga setidaknya 3 kali seminggu setelah usia kehamilan 30 minggu, menurunkan risiko melahirkan bayi dengan berat badan berlebih sebesar 22 persen. Jumlah olahraga yang dilakukan sebelum hamil tidak mempengaruhi berat badan bayi saat hamil.
Para peneliti menambahkan olahraga yang dilakukan selama hamil bisa membantu mencegah janin tumbuh terlalu besar, dengan cara membantu mempertahankan kemampuan tubuh untuk menjaga kadar gula darah terkendali. Jalan kaki adalah olahraga yang paling aman buat ibu hamil.
Jika memiliki gula darah yang tinggi dan diabetes selama masa kehamilan adalah faktor risiko yang paling besar memiliki bayi dengan berat badan berlebih. Hingga saat ini tidak ada standar yang pasti dalam menentukan berapa jumlah olahraga yang dibutuhkan oleh wanita hamil.
Mengingat dampak buruk yang bisa ditimbulkan jika bayi lahir dengan berat badan berlebih, maka sebaiknya dianjurkan bagi wanita yang hamil agar melakukan olahraga secara teratur. Sehingga menghindari komplikasi saat melahirkan dan anak menjadi obesitas nantinya.












































