Peneliti dari Amerika Serikat menegaskan setiap tahun jutaan anak menderita reaksi yang buruk dari obat-obatan yang dikonsumsi. Umumnya terjadi pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Penisilin dan antibiotik adalah salah satu resep obat yang paling sering menyebabkan masalah seperti ruam, sakit perut dan diare.
Berdasarkan data statistik di Amerika sekitar 540.000 anak tiap tahunnya mengalami reaksi buruk terhadap obat-obatan, dan selama rentang tahun 1995 sampai 2005 didapatkan rata-rata anak yang mengalami reaksi terhadap obat sebesar 585.922 anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bourgeois menambahkan dokter juga harus memberitahukan tentang kemungkinan gejala-gejala yang ditimbulkan oleh pengobatan baru tersebut. Berdasarkan data penelitiannya, tidak ada kematian yang disebabkan oleh reaksi buruk obat tapi sebanyak 5 persen anak-anak yang sakit tersebut harus menjalani rawat inap lagi.
Dalam penelitian ini melibatkan reaksi dari obat-obat yang diresepkan dan juga masalah kelebihan dosis. Didapatkan anak usia di bawah lima tahun paling banyak datang ke gawat darurat yaitu sebesar 43 persen dan diikuti oleh remaja usia 15 tahun sampai 18 tahun sebesar 23 persen. Rata-rata anak-anak tersebut mengalami reaksi buruk terhadap obat seperti efek sampingnya.
Masalah yang paling sering dihadapi adalah ketidak jelasan mengenai dosis yang harus diberikan. Karena itu anak-anak yang dirawat di rumah juga rentan terhadap kesalahan pemberian dosis tersebut.
"Masalah yang paling umum adalah kekeliruan pemberian obat cair. Kekeliruan dosis bisa datang dari jumlah tetesan obat, penggunaan sendok teh yang tidak sama atau ukuran mililiternya," ujar Michael Cohen, presiden dari Institute for Safe Medication Practices.
Cohen menambahkan bahwa dokter harus benar-benar jelas menerangkan mengenai dosis yang harus diberikan dan orangtua harus memastikan bahwa sudah benar-benar mengerti mengenai dosis pemberian obat cair sebelum meninggalkan apotek.












































