Penelitian terbaru yang dilakukan oleh pusat pengendalian dan pencegahan penyakit AS (CDC) menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami 6 kali atau lebih kejadian trauma termasuk emosi, fisik atau kekerasan seksual rata-rata memiliki umur yang 19 tahun lebih pendek dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami trauma.
"Stres yang dialami secara terus menerus akan cenderung terakumulasi dalam kehidupan seseorang sehingga mempengaruhi bagaimana cara berkembang, berpikir dan mengontrol emosi orang tersebut," ujar Dr. Robert Anda, yang melakukan investigasi dalam studi Adverse Childhood Experiences (ACE) di CDC, seperti dikutip dari ABCNews, Kamis (8/10/2009).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk melakukan penelitian ini melibatkan lebih dari 17.000 orang yang diserta dengan catatan kesehatan dan kelakuannya selama tahun 1995 sampai 1997. Lalu pada tahun 2006 peneliti melihat kembali siapa saja yang masih bertahan hidup. Peneliti menemukan orang yang mendapatkan 6 atau lebih kejadian yang kurang baik selama hidupnya rata-rata memiliki usia 60 tahun sedangkan yang tidak bisa hidup hingga usia 79 tahun.
Anda menambahkan anak-anak yang mengalami trauma tersebut cenderung mengambil faktor risiko yang bisa memperburuk kesehatan seperti merokok, mengonsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan terlarang, obesitas atau kurang melakukan aktivitas fisik.
Stres yang dialami saat masa kanak-kanak memicu tubuh untuk memproduksi adrenalin dan kortisol yang berlebih. Adrenalin bisa mengganggu pertumbuhan otak sedangkan kortisol menimbulkan masalah yang lainnya.
"Jika dosisnya tinggi atau terjadi berulang-ulang bisa mengacaukan pertumbuhan sel saraf sehingga mengganggu fungsi organ-organ dalam tubuh dan juga berdampak pada sistem kekebalan tubuh," tambahnya.
Anak-anak biasanya lebih mudah untuk mengingat sesuatu, sehingga anak yang mengalami trauma akan memberikan efek yang panjang dan mendalam. Tapi setiap orang memiliki ketahan tubuh yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut berhuungan dengan temperamen (watak), respons terhadap orang lain dan orang-orang disekitarnya seperti teman dan keluarga.
Semakin muda seseorang mengalami trauma, maka akan lebih rentan terhadap efek dari trauma itu sendiri. Jadi anak-anak kecil yang mengalami trauma mendalam bisa memiliki efek yang panjang jika tidak segera ditangani.












































