Orangtua bisa menjadi sangat khawatir jika sang anak sering terjatuh, bahkan ada beberapa orangtua yang memaksakan dokternya agar melakukan rontgen terhadap bagian tubuh anak yang terjatuh tersebut untuk mengetahui apakah ada yang rusak atau tidak.
Biasanya anak kecil memiliki sifat pantang menyerah, jika sudah sekali jatuh si anak tidak akan jera untuk melakukannya lagi. Anak kecil seringkali terjatuh saat belajar berjalan, berlari, mencoba untuk berdiri atau terjatuh dari tempat tidurnya. Hal ini karena saat masih anak-anak kemampuan motoriknya belum berkembang secara sempurna.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orangtua sebaiknya tidak perlu terlalu khawatir jika anaknya jatuh. Namun bukan berarti orangtua bisa cuek saja saat anaknya jatuh. Orangtua perlu merasa khawatir jika si anak mengalami hal berikut ini, seperti dikutip dari Webmd, Rabu (28/10/2009):
- Hilang kesadaran atau tidak memberikan respons apapun saat diajak berbicara dan disentuh. Jika anak sedang tertidur, maka berilah sedikit goyangan atau suara yang keras. Karena hal tersebut seharusnya bisa membangunkan anak meskipun sedang tidur.
- Berdarah atau mengeluarkan cairan bening dari telinga atau hidung.
- Pendarahan yang tidak berhenti meskipun sudah dihambat dengan kain kasa selama 5 sampai 10 menit. Biasanya diakibatkan oleh pembuluh darah robek yang dekat dengan permukaan.
- Sakit kepala. Jika anak belum mampu berkomunikasi secara lisan, cobalah agak sedikit memijat bagian yang terjatuh tersebut. Anak akan memberikan respons suara atau teriak jika merasakan sakit.
- Anak mengalami kejang-kejang.
- Kelemahan otot, kesulitan berjalan atau mengalami kelemahan pada lengan dan kaki.
- Pupil mata mengalami perubahan ukuran.
- Muntah.
Untuk itu dibutuhkan pengawasan yang ekstra terhadap anak kecil, sebaiknya jauhkan barang-barang yang bisa membahayakan keselamatan si anak. Dan orangtua jangan terlalu khawatir terhadap anaknya yang jatuh, selama tidak ada kerusakan terhadap otaknya.












































