Peneliti di Hongkong menemukan di antara anak-anak yang tidurnya kurang dari delapan jam per malam pada akhir minggu atau hari libur secara signifikan kecil kemungkinan memiliki kelebihan berat badan atau obesitas.
Rata-rata anak kecil tidur lebih lama pada saat akhir pekan atau hari libur dibandingkan saat hari biasa, karena anak-anak tidak diharuskan bangun pagi untuk pergi ke sekolah. Namun didapatkan anak yang mengalami obesitas justru lebih sedikit terjadi pada anak yang tidur lebih malam saat akhir pekan dibandingkan dengan anak yang tidur normal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada banyak bukti yang mengaitkan antara durasi tidur yang pendek dengan massa tubuh yang lebih tinggi (kegemukan). Hal yang unik dari penelitian ini menunjukkan bahwa memperlambat waktu tidur pada akhir pekan dapat membantu menghindari kenaikan berat badan pada anak," ujar Kristen Knutson, asisten profesor kedokteran di University of Chicago, seperti dikutip dari HealthDay, Jumat (30/10/2009).
Tapi peneliti mengharapkan masyarakat agar berhati-hati dalam mengartikan hasil penelitian ini. Jadwal tidur dan bangun anak yang tidak teratur serta tidak mencukupinya waktu tidur pada anak-anak usia sekolah bisa menimbulkan efek yang serius. Akibatnya anak menjadi mengantuk di siang hari, kesulitan akademis serta bermasalah pada perilaku dan suasana hati.
"Sifat yang tepat antara hubungan waktu tidur yang pendek dan obesitas masih belum terlalu jelas. Tapi bukti telah menunjukkan ada perubahan pada kadar hormon leptin saat lapar dan hormon ghrelin saat kenyang," ungkap Mary A. Carskadon, profesor psikiatri dan perilaku manusia di Brown University's Alpert Medical School di Providence, AS.
Jika anak memiliki kegiatan yang cukup aktif saat akhir pekan, tidak ada salahnya untuk membiarkan anak tidur lebih malam saat akhir pekan atau hari libur.












































