Ayah Juga Bisa Kena Depresi Setelah Punya Bayi

Ayah Juga Bisa Kena Depresi Setelah Punya Bayi

- detikHealth
Rabu, 09 Des 2009 09:41 WIB
Ayah Juga Bisa Kena Depresi Setelah Punya Bayi
Jakarta - Saat kehamilan telah terlewati dan bayi yang dikandung sudah dilahirkan, maka saatnya merawat dan menjaga bayi tersebut agar tumbuh optimal. Jika biasanya sering terdengar ibu yang mengalami depresi setelah melahirkan, kini ayah pun bisa mengalaminya.

Ketika bayi tersebut dilahirkan, sudah pasti setiap pasangan akan merasa bahagia dan sempurna. Tapi jangan terlalu senang dulu, karena biasanya dalam waktu 2 bulan kebahagiaan tersebut agak sedikit terusik dengan adanya depresi setelah melahirkan (postpartum depression).

Jika sebelumnya sang ibu yang sering mengalami depresi dan berkonsultasi dengan dokternya. Tapi ternyata ada juga beberapa ayah yang merasakan hal serupa, yaitu perasaan cemas, sedih dan bingung (linglung). Perasaan ini biasanya terjadi pada laki-laki yang baru menjadi seorang ayah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Biasanya sekitar 80 persen perempuan mengalami kesedihan atau biasa disebut dengan baby blues setelah melahirkan dan sekitar 10 persennya berubah menjadi depresi pascamelahirkan (postpartum depression). Tapi untuk ayah yang mengalami depresi belum didapatkan data pastinya, karena tidak semua ayah mau mengonsultasikannya ke dokter.

"Diperkirakan sekitar 4 persen dari para ayah memiliki gejala klinis depresi yang biasanya terjadi dalam waktu delapan minggu setelah bayi tersebut dilahirkan. Tapi ini jelas bukan suatu hal yang sering kita dengar, karenanya diperlukan metode khusus untuk memastikannya," ujar Dr Paul G Ramchandani, seorang psikiater di University of Oxford, Inggris, seperti dikutip dari New York Times, Rabu (9/12/2009).

Para ayah yang terkena depresi setelah memiliki anak ini biasanya lebih khawatir mengenai perkawinan dan kehidupan barunya. Tidak seperti perempuan, laki-laki umumnya tidak dibesarkan untuk mengekspresikan emosi atau meminta bantuan karena laki-laki memiliki biologis sendiri. Tapi hal ini justru bisa menimbulkan masalah dalam keluarganya ataupun perkembangan bayinya.

Para ahli menemukan beberapa bukti bahwa kadar hormon testosteron cenderung turun pada laki-laki saat pasangannya hamil. Hal ini memungkinkan sang calon ayah menjadi kurang agresif. Hubungan antara depresi dan rendahnya kadar testosteron pada laki-laki inilah yang memungkinkan seorang ayah terkena risiko depresi setelah memiliki anak.

Sejauh ini prediksi paling kuat yang menyebabkan hal itu terjadi adalah sang ayah memiliki pasangan yang mengalami depresi. Dalam sebuah studi didapatkan bahwa laki-laki yang pasangannya terkena depresi setelah melahirkan memiliki risiko 2,5 kali lebih tinggi untuk terkena depresi juga dibandingkan dengan laki-laki yang pasangannya tidak depresi.

Dr Ramchandani melaporkan jika seorang ibu mengalami depresi setelah melahirkan, maka bisa memberikan efek yang merugikan terhadap emosi dan perilaku anak tanpa melihat jenis kelaminnya. Sedangkan jika ayah yang mengalami depresi, maka hal ini hanya akan memberikan efek pada anak laki-lakinya saja. Tapi belum dapat dilaporkan apa yang terjadi jika kedua orangtuanya mengalami depresi.

(ver/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads