Dr Ersilia Menesini dan rekannya di Universita Degli di Italia merancang penelitian untuk mencari tahu apakah usia dan jenis kelamin anak sekandung bisa memprediksi terjadinya kekerasan di rumah.
Penelitian ini juga mencari hubungan antara kekerasan yang dilakukan dengan saudara kandung dan kekerasan di sekolah. Sebanyak 195 anak yang berusia 10 sampai 12 tahun mengambil bagian dari penelitian ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menemukan anak yang memiliki saudara tua laki-laki lebih sering menjadi korban kekerasan di rumah, bentuk kekerasan ini karena anak yang melakukannya kemungkinan berusaha mempertahankan posisinya sebagai yang dominan di keluarga tersebut," ujar Dr Ersilia Menesini, seperti dikutip dari ScienceDaily, Jumat (11/12/2009).
Anak yang terbiasa melakukan kekerasan terhadap saudara kandungnya sendiri kemungkinan besar akan membawa sifat ini saat bermain dengan teman-teman seusianya atau yang lebih muda darinya.
Peran orangtua sangatlah penting mengatasi masalah ini. Orangtua harus memperhatikan lebih baik lagi hubungan antara kedua saudara kandung dan menengahi konflik yang ada. Terutama jika memiliki anak laki-laki yang lebih tua atau keduanya sering bertengkar.
Dalam mengurangi konflik yang ada, orangtua tidak bisa menggunakan kekerasan atau memarahi dengan suara yang keras karena hal ini tidak akan memberikan efek jera pada anak. Sebaiknya berilah anak kata-kata positif dan jelaskan apa dampak yang bisa didapatkan anak jika ia terus menerus berperilaku seperti itu.
Kekerasan bisa terjadi sejak usia dini dan akan berkembang hingga dewasa jika tidak segera dihentikan. Kekerasan pada anak tidak hanya menimbulkan luka fisik tapi juga trauma terhadap mental anak yang dapat mempengaruhi perkembangannya.
(ver/ir)











































