Profesor Pemuja Susu Formula Panen Kecaman

Profesor Pemuja Susu Formula Panen Kecaman

- detikHealth
Kamis, 07 Jan 2010 17:53 WIB
Profesor Pemuja Susu Formula Panen Kecaman
Trondheim, - Saat dunia sedang menggalakkan pentingnya Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan, seorang profesor asal Norwegia mengklaim tidak ada keuntungan memberikan ASI dibandingkan susu formula. Alhasil, sang profesor kontroversial itu pun menuai banyak kecaman.

Professor Sven Carlsen dari Norwegian University of Science and Technology di Trondheim, mengatakan dia telah melakukan kajian lebih dari 50 data internasional untuk meneliti manfaat menyusui dengan kesehatan bayi.

Hasilnya menurut sang profesor, tidak ditemukan bukti bahwa menyusui bisa mengurangi risiko asma dan alergi pada anak-anak seperti yang selama ini dikait-kaitkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Satu-satunya manfaat dari menyusui yang didukung oleh fakta-fakta asli adalah keuntungan IQ yang kecil," kata Carlsen seperti dilansir dari Telegraph, Kamis (7/1/2010).

Menurutnya, bayi sebenarnya sudah mendapat cukup nutrisi ketika berada dalam kandungan sehingga tidak terlalu memerlukan ASI untuk perkembangannya.

Kesehatan anak, lanjutnya, awalnya ditentukan oleh keseimbangan hormon dari ibunya ketika bayi di dalam rahim. Di dalam rahim seorang anak mendapatkan lebih dari yang dibutuhkan.

Masalahnya, ketika seorang perempuan tidak memiliki hormon yang seimbang atau hormon prianya lebih banyak maka aliran nutrisi ke bayinya akan ikut berdampak, hal ini juga akan mempengaruhi kemampuannya menyusui. Sehingga satu-satunya jalan adalah memberikan anak susu botol.

"Dan susu formula sama baiknya dengan ASI," katanya.

Namun teori kontroversial itu langsung dihentikan oleh para pakar kesehatan di Inggris yang menuding penelitian Carlsen 'tidak bertanggungjawab' dan 'berlebihan'.

Juru bicara dari Royal College of Paediatrics and Child Health, Profesor Charlotte Wright mengatakan penelitian Carlsen belum teruji dan teori yang diungkapkan tidak didukung oleh bukti-bukti epidemiologi yang baik.

Menurutnya, Carlsen telah menganjurkan bahwa wanita yang tidak bisa menyusui jangan melakukannya karena mereka tidak bisa, bukan karena mereka memilih untuk tidak menyusui.

Padahal lanjut Charlotte mayoritas perempuan mampu menyusui bayinya. Jika mereka mengalami kesulitan biasanya bisa melakukannya setelah mendapat bantuan dari spesialis.

"Penelitiannya sangat membingungkan karena tidak disebutkan ASI bisa mencegah infeksi dan adanya pengurangan risiko infeksi yang signifikan dengan pemberian ASI," kata Charlotte.

"Perempuan harus ingat bahwa susu formula hanyalah alternatif," lanjutnya.

Penelitian Carlsen telah dipublikasikan dalam jurnal Acta Obstestricia and Gynecologia Scandinavica di Norwegia untuk edisi Januari.

Sejak tahun 1970-an muncul upaya menakut-nakuti program menyusui dan timbul pemahaman susu formula lebih baik untuk bayi karena bisa menambah berat badan bayi dengan cepat.

Namun kini, para ahli kembali menyerukan pentingnya menyusui karena lebih sehat dan mengurangi risiko obesitas pada bayi.

Menyusui juga telah dikaitkan dengan efek penurunan risiko penyakit jantung, diabetes, kanker payudara pada ibu, serta lebih sedikit terkena infeksi di dada, infeksi telinga dan penyakit pada bayi.

Dalam jangka panjang bayi yang disusui cenderung tidak punya masalah kelebihan berat badan, tekanan darah tinggi, eksim, leukemia dan asma.

Kini para wanita di seluruh dunia dianjurkan untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayinya. Susu formula hanya sebagai makanan tambahan yang bisa diberikan setelah bayi berusia lebih dari enam bulan. (ir/ver)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads