Karena anak yang tidurnya mendengkur kebanyakan tidak nyenyak tidurnya sehingga bisa mengganggu aktivitasnya di esok hari. Anak yang kerap mendengkur juga biasanya mengalami masalah pernapasan atau karena memiliki bobot gemuk.
Tim peneliti dari University of Chicago melibatkan 90 anak yang harus dirujuk ke sebuah klinik untuk melakukan evaluasi mengenai masalah pernapasan yang dialaminya saat tidur. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa anak diklasifikasikan memiliki masalah obstructive sleep apnoea (OSA). OSA bisa mempengaruhi kehidupan anak-anak seperti masalah pada mental, perilaku, jantung dan metaboliknya. Diperkirakan sebesar 3 persen anak-anak yang berusia hingga 9 tahun memiliki masalah tidur ini.
Peneliti menganalisis sampel urin pagi hari dari anak-anak. Dengan menggunakan bantuan pewarna flourescent, peneliti dapat memisahkan dan memberi ciri khas tersendiri pada protein yang ada di urin.
Didapatkan 3 jenis protein yang lebih tinggi pada anak yang memiliki masalah OSA yaitu urocortin 3, orosomucoid dan uromodulin. Sementara protein kallikrein 1 ditemukan lebih rendah dalam urin.
"Ini merupakan hal yang tak terduga, karena melalui urin bisa mendeteksi seseorang memiliki OSA atau tidak. Diharapkan nantinya dapat dibuat alat sederhana seperti tes kehamilan yang dapat dilakukan oleh dokter atau orangtua untuk mendetaksi OSA pada anak-anak," ujar ketua peneliti Dr David Gozal, seperti dikutip dari BBC, Senin (11/1/2010).
OSA merupakan salah satu masalah penting yang biasanya terjadi pada anak yang memiliki amandel besar atau mengalami obesitas. Bahkan beberapa anak yang memiliki kelebihan berat badan harus menggunakan bantuan ventilator di malam hari.
Dr Paul Gringras, konsultan dari Paediatric Neurodisability and Sleep Medicine di Evelina Children’s Hospital juga menyetujui bahwa OSA adalah salah satu masalah yang penting pada anak. Karena kondisi ini bisa berdampak merugikan kesehatan fisik, kemampuan belajar serta perilaku anak.
"Hal ini sangat menarik dimana dengan melihat protein tertentu dalam urin dapat membuat suatu diagnosis, penelitian selanjutnya diperlukan untuk mengetahui waktu yang paling baik untuk melakukan tes dan menyederhanakan tes biokimianya," ujarnya.
(ver/ir)











































