Ilmuwan Debat Kusir Sunat Saat Bayi

Ilmuwan Debat Kusir Sunat Saat Bayi

- detikHealth
Rabu, 13 Jan 2010 13:30 WIB
Ilmuwan Debat Kusir Sunat Saat Bayi
Washington - Sunat saat bayi baru lahir masih menjadi bahan perdebatan antar pakar kesehatan. Sunat saat bayi lahir diduga bisa mengakibatkan masalah psikologis seperti cepat marah, gampang terluka, frustasi, kekerasan dan ketidaknormalan lainnya.

Peneliti Australia mengatakan belum ada bukti kuat yang menunjukkan hubungan antara bayi atau balita yang disunat dengan berkurangnya risiko penyakit menular seksual setelah dewasanya kelak. Bahkan tindakan penyunatan saat bayi atau balita bisa berdampak buruk bagi psikologisnya.

Sebaliknya peneliti Amerika menyebutkan bahwa sunat penting, terutama bagi pria dewasa karena bisa mencegah penularan penyakit AIDS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Konflik antar peneliti yang tergabung dalam American Academy of Pediatrics sebenarnya terjadi saat menyangkut sunat pada bayi baru lahir.

"Masih banyak ketidakpastian tentang sunat, terutama efeknya pada bayi yang baru lahir," ujar Dr Douglas S Diekema, pediatrik dari University of Washington seperti dilansir Healthday, Rabu (13/1/2010).

Dari hasil studi yang dilakukan peneliti Australia terhadap dua kelompok usia, yaitu bayi baru lahir dan laki-laki dewasa (14-49 tahun), diketahui bahwa risiko penyakit seksual dan komplikasi lainnya karena tidak disunat hanya sekitar 2 hingga 10 persen.

"Risiko yang sangat kecil untuk dijadikan patokan pentingnya melakukan sunat, terutama pada bayi atau balita," kata Caryn Perera dari Royal Australasian College of Surgeons. Perera juga mengatakan, sunat bisa menyebabkan masalah psikologis setelah bayi atau balita tersebut disunat.

Namun hasil studi peneliti Amerika di kawasan Afrika justru menyebutkan sunat bisa mengurangi risiko perpindahan penyakit seksual termasuk virus HIV yang menyebabkan AIDS. Mereka juga menyebutkan bahwa sunat bisa meningkatkan kemampuan seksual pria karena faktor kebersihan yang lebih disukai wanita.

Namun Perera lagi-lagi membantahnya dan mengatakan hal itu tidak berlaku untuk pria yang disunat saat baru lahir. "Studi itu hanya melihat efek sunat pada pria dewasa, bukan pada bayi baru lahir atau balita," kata Perera.

Perera justru berasumsi bahwa sunat yang dilakukan pada waktu kecil bisa menyebabkan masalah psikologi seperti cepat marah, gampang terluka, frustasi, kekerasan dan ketidaknormalan lainnya. Untuk itu, perlu studi lebih lanjut lagi tentang efek kesehatan sunat pada bayi baru lahir untuk menentukan apakah baik atau tidaknya.

"Sebaiknya ada studi yang melibatkan bayi dalam jumlah besar dan mengikutinya selama beberapa dekade untuk mengetahui efek sunat atau tidak sunat setelah ia dewasa kelak. Namun hingga saat ini teknik sunat masih dianggap aman dan punya beberapa keuntungan," kata Dr Matthew Golden, profesor dari University of Washington Center for AIDS and STD.

Usia yang paling baik untuk seorang anak laki-laki disunat adalah setelah 40 hari karena pada usia tersebut tidak mengeluarkan banyak darah. Sunat pada bayi yang belum berusia 40 hari berisiko karena pada masa perinatal tersebut kondisi bayi masih sangat rentan. Dikhawatirkan nantinya bisa menimbulkan luka yang serius pada bayi.

(fah/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads