Peneliti menungkapkan tes darah ini penting dilakukan dan dalam beberapa kasus ada alasan medis mengapa harus melakukan tes ini. Selain bisa menentukan jenis kelamin bayi, tes darah ini juga bisa mendeteksi kondisi medis dari janin nantinya.
Dalam studi terbaru yang diterbitkan jurnal Obstetrics & Gynecology, peneliti di Belanda menuturkan bahwa metode yang digunakannya hampir 100 persen akurat dalam menentukan jenis kelamin janin pada 201 perempuan hamil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tes darah ini selain bisa menentukan jenis kelamin janin, juga menjadi kunci dalam mendeteksi kelainan genetik yang berhubungan dengan kromosom X. Kelainan ini seperti hemofilia atau distrofi otot Becker yang hampir selalu terlihat pada anak laki-laki dibandingkan perempuan. Ini disebabkan anak laki-laki mewarisi satu kromosom X dari ibu, sednagkan anak perempuan dua kromosom X.
Dalam studi ini, van der Schoot dan rekannya menganalisa 201 perempuan hamil yang melakukan tes darah di laboratoriumnya antara tahun 2003-2009. Tes dilakukan pada awal minggu ketujuh kehamilan, dengan mencari dua gen yang ditemukan pada kromosom Y. Karena hanya laki-laki yang memiliki kromosom Y, jika gen-gen ini ditemukan pada sampel darah ibu hamil maka janin diasumsikan sebagai laki-laki.
Tapi ketika tes tidak bisa mendeteksi gen, maka darah ibu akan dianalisa lebih lanjut untuk melihat informasi DNA lainnya. Dengan begiu biasanya peneliti menyimpulkan bahwa janin adalah perempuan.
Dari 201 perempuan yang ikut dalam studi ini, sebanyak 189 perempuan benar-benar melahirkan bayi yang jenis kelaminnya sama dengan hasil tes. Selain itu, dari hasil tes juga bisa mendeteksi penyakit turunan yang nantinya dapat berbahaya bagi bayi.
(ver/ir)











































