Indung telur yang dicangkokkan (transplantasi) adalah jaringan yang telah diangkat sebelumnya yang kemudian dibekukan lalu oleh dokter ditransplantasikan kembali ke tubuhnya setelah dinyatakan sembuh dari kanker. Proses cangkok itu dilakukannya 4 tahun lalu.
Anak pertamanya Aviaja lahir tahun 2007 melalui proses bayi tabung (in vitro fertilisation/IVF). Sedangkan anak keduanya yang diberi nama Lucca lahir pada September 2008 melalui cara pembuahan yang normal. Lucca dilahirkan melalui prosedur transplantasi jaringan ovarium yang sudah dibekukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah sebuah kejutan yang sangat menyenangkan bahwa tubuh saya bisa berfungsi secara normal. Saya pikir saya harus menjalani perawatan kesuburan lagi untuk bisa memiliki anak kedua. Saat ini semuanya adalah suatu keajaiban," ujar Bergholdt (32 tahun) yang bekerja di University of Southern Denmark di Odense, seperti dikutip dari BBCNews, Kamis (25/2/2010).
Bergholdt menuturkan sebelumnya ia sudah memiliki janji dengan dokter di klinik perawatan kesuburan untuk membicarakan rencana kehamilannya yang kedua. Tapi kini ia tak perlu melakukan perawatan kesuburan lagi, karena dirinya sudah bisa hamil secara normal.
Profesor Claus Yding Andersen, dokter yang merawatnya mengungkapkan kejadian ini adalah pertama kalinya di dunia. Ketika ada seorang perempuan yang bisa memiliki dua anak dengan cara kehamilan yang berbeda yaitu dengan proses IVF dan transplantasi jaringan ovarium.
"Jaringan ovarium masih bisa terus berfungsi lebih dari empat tahun setelah ditransplantasikan kembali ke dalam tubuhnya. Sedangkan jaringan yang tetap beku di dalam nitrogen cair bisa tetap berfungsi selama 40 tahun," ujar Prof Andersen.
Hasil ini mendukung metode jaringan ovarium cryopreservation sebagai salah satu cara yang bisa dilakukan untuk memelihara kesuburan serta dapat menjadi prosedur klinis bagi perempuan yang memiliki kerusakan di indung telurnya. Kejadian ini telah dilaporkan dalam jurnal medis Human Reproduction.
"Ini adalah suatu hal yang menggembirakan bahwa seorang perempuan bisa hamil dengan cara transplantasi jaringan ovarium, tapi belum banyak kasus seperti ini yang berhasil. Diharapkan hal ini bisa mendorong pengembangan dari prosedur tersebut," jar Dr Melanie Davies, juru bicara dari Royal College of Obstetricians and Gynaecologists.
(ver/ir)











































