Dua dokter di Inggris menggunakan teknik 'brain washing' untuk memompa dan mengeluarkan produk-produk beracun akibat perdarahan sehingga dapat meminimalkan kerusakan yang terjadi. Cairan beracun yang terdapat di otak ini dapat menghasilkan tekanan yang bisa meracuni otak dan merusak bentuk tengkoraknya.
Teknik ini telah dilakukan pada Isaac Walker-Cox yang dilahirkan prematur pada usia 13 minggu dan memiliki masalah perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah di otak yang menimbulkan kondisi hidrosephalus (kepala membesar) dan seringkali berakibat fatal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebelumnya para dokter mengatakan bahwa ia akan mengalami cacat fisik dan mental yang berat, tapi kini hal tersebut tidak terbukti. Dia tidak memiliki cacat mental apapun, dapat bersekolah normal dan cacat fisik yang dialaminya tidak menghambat aktivitasnya sedikitpun," ujar Steven, sang ayah, seperti dikutip dari Timesonline, Senin (8/3/2010).
"Bayi prematur memang memiliki risiko perdarahan, karena di tengah kehamilannya janin memiliki banyak pembuluh darah yang rapuh di otaknya. Dengan teknik ini diharapkan semakin meningkatkan jumlah bayi prematur yang dapat bertahan hidup akibat perdarahan otak," ujar Andrew Whitelaw, profesor kedokteran neonatal di University of Bristol.
Beberapa anak yang mengalami perdarahan di otak mengakibatkan kondisi hidrosephalus atau kepala membesar. Pengobatan standar yang dilakukan adalah dengan memasukkan jarum ke dalam kepala untuk menghilangkan cairan, tapi pengobatan ini belum terlalu berhasil.
Dengan teknik 'brain washing', bayi yang menderita perdarahan otak diberikan anestesi dan dua tabung dimasukkan ke dalam ventrikel otaknya. Satu tabung digunakan untuk menguras cairan yang penuh dengan racun akibat perdarahan, dan tabung lainnya untuk memasukkan cairan buatan yang sama.
Dengan membiarkan berkurangnya aliran cairan (fluida) di dalamnya, maka dokter telah mengurangi tekanan yang ada sehingga memungkinkan proses penyembuhan. Biasanya setelah tiga hari tabung bisa dilepaskan.
Pada studi ini melibatkan 77 bayi prematur yang dirawat karena mengalami perdarahan otak, dengan 38 bayi menjalani pengobatan standar sedangkan 39 bayi menjalani teknik 'brain washing'. Didapatkan sekitar 71 persen bayi yang menjalani pengobatan standar meninggal atau mengalami kecacatan berat, sedangkan dengan teknik yang baru hanya sebesar 54 persen.
"Ini adalah pertama kalinya sebuah pengobatan telah terbukti bisa memiliki manfaat pada bayi," ujar Whitelaw.
Diharapkan teknik 'brain washing' ini nantinya bisa diaplikasikan secara luas sebagai pengobatan untuk kondisi seperti perdarahan di otak akibat stroke pada orang dewasa.
(ver/ir)











































