Peneliti Inggris menemukan hasil itu berdasarkan data dari kantor statistik Irak. Peneliti melakukan kajian terhadap perkembangan anak-anak di bawah usia 5 tahun.
Lebih pendeknya anak-anak yang lahir di Irak ini diyakni karena pola makan dan sanitasi yang buruk. Konflik perang juga semakin merusak kesehatan anak-anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti menilai ini merupakan masalah serius karena anak-anak yang terlahir di daerah perang terutama di bagian selatan dan tengah Irak mengalami masalah kesehatan.
Meski anak-anak itu terlahir menjadi lebih pendek namun peneliti tidak menemukan adanya berat badan yang kurang. Ini menunjukkan bahwa bukan kuantitas makanan yang menjadi masalah tapi kualitasnya.
Anak-anak diberi makan seadanya yang penting kenyang tanpa memperhatikan nilai gizinya. Lebih pendeknya anak-anak Irak saat ini juga ditengarai karena kualitas ibu hamil yang juga menurun.
"Ketinggian anak-anak ini mencerminkan kualitas makanan yang buruk dan seringnya terjangkit penyakit seperti diare karena tidak adanya pasokan air bersih," kata Gabriela Guerrero-Serdan bagian ekonomi Royal Holloway, University of London.
Anak-anak perlu diberi gizi cukup agar menjadi menjadi lebih sehat, produktif dan mampu belajar untuk masa depannya. Anak usia emas hingga 5 tahun menjadi penentu pertumbuhannya ke depan.
Masalah gizi ini juga sebelumnya telah menjadi sorotan Unicef. Asupan nutrisi di bawah normal telah mencuri kekuatan anak dan membuat tubuhnya tidak bisa melawan penyakit yang berbahaya.
Sampai saat ini masalah gizi buruk pada anak-anak di beberapa negara berkembang masih menjadi masalah kesehatan besar yang belum dapat ditangani dengan maksimal.
Laporan Unicef mengungkapkan bahwa masih banyak kematian yang terjadi pada anak-anak terkait dengan pola makan yang buruk. Selain kematian, kerugian lain yang mungkin didapatkan anak adalah memiliki pertumbuhan yang terhambat.
(ir/ir)











































