Berat Tubuh Pengaruhi Kesembuhan Anak Ketika Sakit

ADVERTISEMENT

Berat Tubuh Pengaruhi Kesembuhan Anak Ketika Sakit

- detikHealth
Selasa, 30 Mar 2010 16:48 WIB
Jakarta - Anak yang memiliki tubuh gemuk akan lebih tahan ketika menghadapi penyakit malaria. Tapi anak yang gemuk harus lebih waspada jika terkena penyakit demam berdarah atau flu burung.

Sedangkan untuk penyakit tipus, bobot tubuh biasanya tidak mempengaruhi proses penyembuhannya. Sebaiknya orangtua menjaga berat badan anaknya pada kisaran normal agar lebih tahan terhadap infeksi.

"Masyarakat biasanya melihat bayi yang gemuk itu lucu dan menggemaskan, padahal belum tentu bayi yang gemuk itu sehat dan memiliki sistem kekebalan tubuh (imunitas) yang baik dibandingkan dengan bayi yang lain," ujar dr Kiki Madiapermana Kustiman Samsi, SpA, MKes dalam acara Pfizer Journalist Class dengan tema Gizi dan Masa Depan Generasi Muda di Wisma GKBI, Jakarta, Selasa (30/3/2010).

Saat kuman masuk ke dalam tubuh biasanya akan berhadapan terlebih dahulu dengan sel-sel yang berfungsi sebagai benteng yaitu kulit, mukosa paru-paru dan mukosa mulut. Setelah sampai di dalam tubuh kuman akan berhadapan dengan sel daya tahan tubuh.

Jika terjadi infeksi, maka tubuh butuh waktu selama 10 hari untuk membentuk limfosit dan dibutuhkan waktu 14 hari bagi limfosit untuk membasmi infeksi tersebut.

"Semakin jelek atau buruk kondisi nutrisi seseorang, maka waktu yang dibutuhkan untuk membasmi infeksi tersebut akan semakin lama. Hal ini dikarenakan sel-sel yang ada kurang matang atau sudah loyo. Tapi kalau gizinya baik maka akan semakin cepat infeksi tersebut dibasmi," ujar dokter yang berpraktik di Kemang Medical care.

Beberapa penyakit infeksi, faktor kesembuhannya bisa dipengaruhi oleh bobot tubuh yang dimiliki. "Jika seorang anak sudah memiliki asupan gizi yang bagus, maka secara tidak langsung dia sudah punya perlindungan yang standar. Dan anak dengan gizi normal akan memiliki keseimbangan yang baik antara proinflamasi dan antiinflamasi," ujar dokter kelahiran Bandung 41 tahun silam.

Apabila salah satu bagian tubuh terkena infeksi, maka akan timbul peradangan dan secara otomatis tubuh akan memproduksi proinflamasi (seperti IL8 atau TNF-alfa) untuk menghentikan peradangan. Jika infeksi sudah sembuh, tubuh akan menghasilkan antiinflamasi (seperti IL10 dan anti-TNFalfa) untuk menghentikan kerja dari proinflamasi.

Hal ini penting karena jika kadar proinflamasi terlau berlebihan akan menimbulkan kerusakan di daerah sekitar infeksi. Tapi jika antiinflamasi yang berlebihan akan membuat kuman susah untuk dibasmi dan bertahan di daerah tersebut.

Pada anak yang memiliki gizi kurang atau lebih, akan terjadi ketidakseimbangan jumlah proinflamasi dan antiinflamasi.

"Sebaiknya anak-anak jangan diberikan obat yang dapat meningkatkan sistem imun, karena takutnya saat terkena infeksi sistem imunnya sudah lelah sehingga membuat anak lebih mudah terserang infeksi. Maka dari itu beri saja nutrisi optimal yang berasal dari makanan seperti sayur dan buah-buahan," ujar dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

(ver/ir)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT