Peneliti Norwegia melaporkan anak perempuan dari ibu yang memiliki morning sickness parah kemungkinan tiga kali lipat mengalami hal yang sama.
Salah satu bentuk morning sickness adalah hyperemesis gravidarum, yaitu suatu kondisi yang melibatkan mual dan muntah sebelum usia kehamilan mencapai 22 minggu. Pada kasus yang berat bisa menyebabkan penurunan berat badan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam studi terbaru yang dipimpin oleh peneliti Ase Vikanes dari Norwegian Institute of Public Health di Oslo, menunjukkan bahwa ada pengaruh yang kuat dari gen sang ibu yang diturunkan ke anak perempuannya terhadap perkembangan kondisi ini. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan pada 30 April lalu di edisi British Medical Journal (BMJ).
"Kondisi ini dipengaruhi oleh garis keturunan sang ibu dan diikuti oleh faktor indeks massa tubuh, kebiasaan merokok, infeksi serta faktor gizi yang dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan hypermeresis gravidarum," ujar Vikanes, seperti dikutip dari HealthDay, Senin (3/4/2010).
Sebelumnya, kondisi hypermeresis gravidarum diduga akibat masalah psikologis, seperti penolakan alam bawah sadar terhadap kehadiran anak yang dikandung atau pasangannya. Lalu tim peneliti mencoba melihat apakah faktor genetika turut mempengaruhi hal ini.
Untuk studi ini, Vikanes dan tim menganalisa 2,3 juta data kelahiran tahun 1967-2006. Didapatkan sekitar lebih dari 500.000 pasangan ibu dan anak perempuan yang mengalami hal ini. Jika seorang ibu memiliki kondisi tersebut, maka putrinya tiga kali lebih besar mengembangkan kondisi ini.
"Temuan ini dapat menambah wawasan baru tentang hypermeresis gravidarum dan menjadi acuan apakah nantinya seorang perempuan memiliki kemungkinan mengalami kondisi hypermeresis gravidarum dengan melihat sejarah keluarganya," ungkapnya.
(ver/ir)











































