Untuk itu Ikatan Dokter Indonesia (IDI) akan mengadakan program meningkatkan kompetensi bagi para dokter umum yang bisa mendeteksi dini kelainan pada ibu hamil.
Deteksi yang lebih dini ini penting untuk mencegah angka kematian ibu yang masih tinggi. Masih tingginya angka kematian ibu membuat Indonesia harus berjuang untuk menurunkannya agar tercapat target pembangunan millenium atau Millenium Development Goals (MDGs).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prof Ali Bazad, Ketua bidang kesejahteraan ibu dan anak PB IDI menuturkan dalam waktu dekat IDI akan mengadakan program untuk meningkatkan kompetensi bagi para dokter umum.
Program ini adalah dengan memberikan pembekalan ilmu bagi para dokter umum agar bisa mendeteksi dini, sehingga dapat mencegah atau menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi.
"Diperlukan juga kerja sama dan kepedulian dari pemerintah daerah setempat untuk menunjang program tersebut, serta peran dari pihak swasta misalnya untuk menyediakan alat USG sehingga bisa mendeteksi kondisi kehamilan ibu," ungkapnya.
Salah satu penyebab kematian pada ibu adalah perdarahan saat proses persalinan. Penyebab faktor risiko perdarahan yaitu memiliki banyak anak (semakin banyak anak maka risiko perdarahannya semakin besar), kontraksi yang jelek saat persalinan atau saat hamil tidak diketahui dimana letak dari ari-ari atau plasenta si bayi.
"Karena itu penting untuk mengenali faktor-faktor risiko yang ada. Karena jika faktor risiko ini dapat diketahui, maka bisa segera dirujuk sehingga mendapat pertolongan yang lebih cepat," ujar Prof Ali dalam acara konferensi pers Gerakan Nasional Kesehatan Ibu dan Anak menuju Pencapaian MDGs 2015, di Hotel Milenium, Jakarta, Rabu (23/6/2010).
Program peningkatan kompetensi untuk dokter umum rencananya akan dimulai pada tahun ini di 3 provinsi yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT), Jawa Barat dan Irian. Pemilihan daerah ini karena memiliki angka kematian bayi dan ibu yang buruk di Indonesia.
Cara lain yang bisa dilakukan untuk menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi adalah dengan menggalakkan kembali program keluarga berencana (KB), IMD (Inisiasi Menyusu Dini) serta program ASI eksklusif.
Karena diketahui salah satu penyebab perdarahan saat persalinan adalah memiliki banyak anak, karenanya jika hanya memiliki 2 anak saja risiko perdarahan bisa menurun.
"Saat IMD, bayi yang baru lahir akan diletakkan di dada ibunya. Hal ini membantu meningkatkan produksi hormon oksitosin yang bisa mengurangi perdarahan ibu setelah melahirkan," ujar dr Utami Roesli, Sp.A, MBA, IBCLC.
Sedangkan pemberian ASI eksklusif bisa membantu mengurangi angka kematian bayi, karena berdasarkan salah satu penelitian diketahui bahwa bayi yang tidak mengonsumsi ASI memiliki kemungkinan 16 kali lebih sering dirawat di rumah sakit.
"Karena itu sebenarnya tidak terlalu sulit agar bisa mencapai target dari MDGs ini, asalkan mau kumpul bersama dan bekerja sama untuk saling membantu serta menyosialisasikan MDG's ini," ungkap Prof Ali.
(ver/ir)










































