Gencarnya Iklan Susu Tenggelamkan Kampanye ASI

Gencarnya Iklan Susu Tenggelamkan Kampanye ASI

- detikHealth
Jumat, 23 Jul 2010 16:48 WIB
Gencarnya Iklan Susu Tenggelamkan Kampanye ASI
Jakarta - Kampanye Air Susu Ibu (ASI) terus digalakkan untuk menghimbau ibu-ibu mau menyusui bayinya secara eksklusif hingga usia 6 bulan. Sayangnya, gencar dan luar biasanya iklan susu formula menenggelamkan kampanye-kampanye ASI.

ASI merupakan makanan bayi ciptaan Tuhan yang memenuhi kebutuhan gizi bayi serta mengandung zat kekebalan terhadap penyakit dan alergi. Setiap bayi berhak mendapatkan ASI dan setiap ibu perlu mendapat dukungan untuk menyusui.

Tapi di zaman moderen seperti sekarang, memberi ASI secara eksklusif tampaknya banyak rintangan, terlebih bila si ibu adalah seorang wanita karir yang hanya memiliki masa cuti hamil selama 3 bulan saja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan data Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) tahun 2008, jumlah ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif (0-6 bulan) menunjukkan jumlah yang stagnan, bahkan cenderung menurun. Padahal penyuluhan dan kampanye ASI tampaknya semakin tahun semakin banyak dilakukan.

Selain itu, jika dilihat dari pertambahan usia bayi dari 0 sampai 6 bulan, diketahui ibu yang menyusui bayi sebesar 73 persen pada usia bayi 0-1 bulan, 77,1 (1-2 bulan), 63,3 (2-3 bulan), 56,7 persen (3-4 persen), 41,3 persen (4-5 bulan) dan hanya 24,3 persen yang masih menyususi pada saat bayi berusia 5-6 bulan.

Dari data tersebut, terlihat bahwa semakin bertambah usia bayi (dalam 6 bulan pertama), maka semakin sedikit ibu yang mau menyusui bayinya.

"Hal ini salah satunya disebabkan karena luar biasanya iklan susu formula hingga mengalahkan kampanye-kampanye ASI yang sudah dilakukan," ujar Dr Budihardja, DTM&H,MPH, Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Kemenkes, dalam acara konferensi pers Pekan ASI Sedunia di gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat (23/7/2010).

Dr Budi juga mengungkapkan bahwa faktor lain yang menyebabkan sedikitnya jumlah ibu menyusui adalah makin aktifnya seorang ibu dan kurang menariknya penyuluhan dan kampanye ASI yang sudah dilakukan.

Dalam rangka mendukung pemenuhan hak bayi dan ibu tersebut di atas, WHO dan UNICEF pada tahun 1989 sebenarnya telah memperkenalkan '10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (10 LMKM)' yang menekankan pentingnya peran khusus fasilitas pelayanan kesehatan ibu untuk menerapkan 10 LMKM agar semua ibu sukses menyusui.

Pemerintah Indonesia juga telah melaksanakan beberapa kegiatan penting, antara lain Pencanangan Gerakan Masyarakat Peningkatan Penggunan ASI oleh Presiden RI ke-2 (22 Desember 1990), dilanjutkan tahun 1991 dengan Pencanangan program RS Sayang Bayi. Selanjutnya diperkuat dengan dua Kepmenkes RI tentang Pemasaran Pengganti Air Susu Ibu dan tentang Pemberian ASI secara Eksklusif pada Bayi di Indonesia.

Tapi semua itu sepertinya tak banyak mempengaruhi jumlah ibu-ibu yang mau menyusui bayinya. Iklan susu formula benar-benar berdampak besar dalam merampas hak bayi mendapatkan ASI secara eksklusif.

(mer/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads