AIMI Himbau Bantuan Bencana Tidak Berbentuk Susu Formula

AIMI Himbau Bantuan Bencana Tidak Berbentuk Susu Formula

- detikHealth
Rabu, 27 Okt 2010 10:05 WIB
AIMI Himbau Bantuan Bencana Tidak Berbentuk Susu Formula
Jakarta - Ibu-ibu menyusui yang ada di daerah bencana diharapkan tetap konsisten memberikan air susu ibu (ASI) meski dalam kondisi darurat. Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyarankan masyarakat yang ingin memberikan bantuan ke daerah bencana tidak berbentuk susu formula.

Kenapa AIMI melarang bantuan dalam bentuk susu formula?

"Untuk bayi yang masih di bawah 2 tahun lebih ditekankan tetap mengonsumsi ASI eksklusif dan hindari pemberian susu formula," ujar Amanda Tasya, selaku Ketua Advokasi AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) saat dihubungi detikHealth, Rabu (27/10/2010).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Amanda menuturkan ada beberapa alasan yang membuat pemberian susu formula sebaiknya dihindari di daerah darurat, yaitu:

  1. Di daerah darurat atau bencana biasanya sulit untuk mendapatkan air bersih, karenanya jika susu formula ini dibuat dengan menggunakan air yang tidak bersih akan berisiko diare pada bayi.
  2. Bayi yang awalnya menyusui ASI bisa jadi nantinya tidak mau menyusui lagi jika sudah diberikan susu formula.
  3. Susu formula yang diberikan dalam bentuk bantuan terkadang tidak memenuhi standar atau mungkin sudah kadaluarsa.
  4. Tidak bisa berkesinambungan, misalnya saat bencana diberikan susu dengan merk X yang harganya mahal, lalu setelah kembali normal keluarga tersebut tidak bisa lagi membeli susu sehingga orangtua akan memberikan susu formula ini tidak sesuai dengan cara penggunaannya.

"Sebenarnya dalam kondisi apapun ASI tetap ada di dalam tubuh ibunya, tapi terkadang ASI ini tidak keluar misalnya jika ibunya stres. Karenanya dibutuhkan konselor-konselor laktasi yang bisa membantu ibu tetap menyusui anaknya," ungkapnya.

Susu formula hanya boleh diberikan pada kondisi-kondisi tertentu yang memang sangat mendesak atau tidak ada pilihan lain, misalnya sang bayi terpisah dari ibunya atau ibunya memang sama sekali tidak bisa menyusui.

Amanda menambahkan jika bayi terpaksa harus diberikan susu formula, maka sebaiknya pembuatan atau pendistribusian susu formula ini diperhatikan dan diawasi oleh tenaga kesehatan atau konselor laktasi.

"Pemberian susu formula sebaiknya tidak melalui botol atau dot, tapi menggunakan cangkir atau gelas. Ini karena cangkir dan gelas lebih mudah dibersihkan sehingga tetap steril dan juga tidak membuat bayi mengalami bingung puting. Sebaiknya pembuatan susu formula ini menggunakan air mineral kemasan," ujar Amanda yang juga sebagai konselor laktasi.

Pemberian susu formula ini hanya bersifat sementara sampai ibu bisa menyusui kembali, karenanya prosedur relaktasi (menyusui kembali) harus diupayakan sesegera mungkin.

Sedangkan bagi bayi yang sudah mendapatkan makanan pendamping ASI (MP-ASI) jika memungkinkan sebaiknya diberikan makanan yang memang dibuat dari dapur umum atau dari rumah dan menghindari makanan instan.

Hal yang paling dibutuhkan oleh bayi dan balita di daerah darurat adalah asupan makanan, namun pemberian susu formula atau makanan instan hanya boleh diberikan jika memang sudah tidak ada pilihan lagi (menjadi pilihan terakhir).

Amanda menjelaskan AIMI sudah menerapkan Rangkuman Pemberian Makan Bayi di Situasi Darurat seperti yang direkomendasikan UNICEF, WHO, IDAI sejak 7 Januari 2005.

(ver/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads