James Anderson dan Ailsa Millen dari University of Stirling melaporkan dalam jurnal Biology Letters mengungkapkan bahwa bayi dan balita hampir tidak pernah ikut menguap jika meihat atau berada di sekitar orang yang menguap.
Kondisi ini tentu saja kontras dengan orang dewasa yang sekitar 50 persennya pasti ikut menguap jika melihat orang lain menguap. Fenomena ini yang membuat menular adalah sesuatu yang menular (contagious yawning).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada bagian kedua studi, bayi dan balita yang rata-rata berusia 2 tahun diperlihatkan video bayi yang sedang menguap. Diketahui hanya 3 dari 22 bayi yang ikut menguap saat melihat video tersebut.
"Hasil ini menunjukkan sebagian besar bayi dan anak-anak pra sekolah sedikit mendapatkan pengaruh psikologis yang membuatnya ikut menguap jika melihat orang lain menguap, dibandingkan dengan orang dewasa," ujar James Anderson, seperti dikutip dari abc.net.au, Sabtu (4/12/2010).
Studi sebelumnya menuturkan bahwa anak-anak di bawah 5 tahun cenderung tidak tertular menguap. Namun saat ia mencapai usia 12 tahun, maka ia akan ikut tertular dan memiliki tingkatan yang sama seperti orang dewasa. Hal ini kemungkinan karena menguap identik dengan tanda empati, dan biasanya kondisi ini mulai berkembang saat anak berusia 6 tahun.
"Anak-anak kecil dan bayi kurang menular karena mereka tidak meiliki tekanan atau sosial hambatan yang sama dengan orang dewasa, jadi mereka akan menguap sesukanya dan ketika mereka suka untuk melakukannya," ungkap Anderson.
Menguap sendiri memiliki fungsi fisiologis dan juga psikologis penting. Asupan udara dingin yang tiba-tiba isa bertindak sebagai radiator, mengubah aliran darah di wajah, mendinginkan otak serta meningkatkan kewaspadaan.
(ver/ir)











































