Menurut Menkes sangat penting bagi perempuan untuk mengetahui gizi seimbang bagi bayi ataupun balita sehingga akan lahir generasi-generasi baru yang sehat dan kuat.
Pentingnya gizi diperlukan untuk menekan penurunan prelavensi anak balita pendek (stunting) menjadi 32% pada 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, penting bagi perempuan Indonesia mengerti dan paham akan artinya penting gizi, hingga sang bayi lahir. .
"Apabila anak Indonesia, pertumbuhan fisiknya bagus, akan lebih baik. Juga dalam memprogramkan waktu ibu hamil," ucap Endang.
Pemerintah mencatat angka kekurangan gizi balita telah menurun dari 28% di tahun 2005 menjadi 17,9% pada tahun lalu (Riskesdas 2010). Dimana pada RPJMN 2010-2014 ditargetkan prevalensi gizi kurang pada balita menjadi 15%.
"Saat ini, status gizi mengalami perbaikan. Tercatat 18,4% di 2008, dan saat ini 17,9%," ucap Endang.
Namun Menkes mengaku ada hal lain yang lebih penting dibandingkan angka kekurangan gizi, yakni permasalahan stunting. Dimana stunting menjadi fokus intervensi dalam pembangunan gizi di Indonesia dalam 5 tahun ke depan.
"Ada permasalahan lain, balita pendek. Ditemukan 1/3 balita anak berkategori pendek," tuturnya.
Pada tahun 2007 prevelensi pendek pada anak balita sebesar 36,8%. Meski jumlah prevalensi turun menjadi 35,6%, tetapi disparsitas prevalensi stunting antar provinsi yang cukup lebar. Untuk itu perlu mendapat penanganan spesifik terutama di wilayah rawan pangan.
"Keluaran rencana aksi diharapkan dapat menjembatani MDGs yang pada dasarnya telah ditetapkan dalam RPJMN 2010-2014 yaitu menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita menjadi kurang dari 15%, menurunnya prevalensi pendek pada anak balita menjadi 32%, dan tercapainya konsumsi pangan dengan asupan kalori 2.000 kilo kalori per orang per hari," kata Menteri PPN/Kepala Bappenas, Armida Alisjahbana dalam kata sambutannya.
(wep/ir)











































