Meski pun punya materi yang cukup untuk membeli makanan, kadang orangtua tidak mengerti makanan yang baik untuk anaknya karena kurangnya pengetahuan dalam memilih makanan. Akibatnya, si anak tetap kurus dan kurang gizi meski sudah diberi makan.
"Masalah nutrisi pada anak terjadi akibat adanya perubahan gaya hidup dan juga kurangnya pengetahuan dalam memilih makanan yang tepat," ujar Profesor Quak Seng Hock dari Paediatrics Department National University Hospital, Singapura dalam acara konferensi pers 2nd ESPGHAN Asia Postgraduated Workshop di RSCM, Jakarta, Kamis (3/3/2011).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Asia adalah benua yang sangat heterogen dengan tingkat perbedaan yang cukup tinggi dalam hal kemampuan ekonomi maupun akses terhadap layanan kesehatan," ujar Prof Quak.
Prof Quak menuturkan ada beberapa keprihatinan yang muncul terkait nutrisi anak di kawasan Asia yaitu:
- Malnutrisi yang biasanya disebabkan oleh kemiskinan dan kurangnya pengetahuan
- Kekurangan zat mikronutrien seperti zat besi pada anak yang biasanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan
- Obesitas
"Di satu sisi ada anak yang mengalami malnutrisi tapi di lain pihak juga ada masalah obesitas, hal ini karena adanya perbedaan distribusi dan kurangnya pengetahuan masyarakat," ungkapnya.
Obesitas kini memang menjadi masalah dunia, hal ini juga dipicu oleh perubahan gaya hidup dan kurangnya aktivitas fisik seperti menggunakan bis atau mobil ke sekolah lalu pulangnya lebih banyak menghabiskan waktu di depan televisi atau bermain game di komputer.
Sementara itu Ketua IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) Dr Badriul Hegar, SpA(K) menyatakan bahwa kesehatan anak masih menajdi masalah utama di Indonesia.
"Kesehatan anak bukan hanya berarti anak terbebas dari penyakit atau mengenai kondisi fisik, mental dan sosial. Tapi juga dibutuhkan dorongan untuk mencapai potensi terbaik dalam hidupnya," ujar Dr Badriul.
Dr Badriul mengungkapkan dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak untuk mewujudkan kesehatan anak, dan dokter anak harus berperan sebagai pengayom bagi kesehatan anak-anak.
Permasalahan seputar kesehatan anak ini akan dibahas dalam pertemuan ESPGHAN 2nd Asia Postgraduated Workshop di Jakarta tanggal 3-6 Maret 2011. Dalam pertemuan ini sekitar 86 delegasi dari Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam dan China.
"Dalam acara ini kami akan saling berbagi dan bertukar ilmu serta pengalaman dengan para akademisi dan sesama peserta, dan target utama kami adalah dokter-dokter muda," ujar Profesor Riccardo Troncone selaku ketua ESPGHAN (The European Society for Paediatrics Gastroloenterology, Hepatology and Nutrition).
Prof Riccardo mengaku optimistis bahwa workshop ini akan memberikan pengetahuan yang dibutuhkan oleh ratusan dokter di Asia untuk menangani masalah pencernaan, hepatologi dan gangguan nutrisi anak.
Workshop ini merupakan penyelenggaraan yang kedua setelah sebelumnya diadakan di Shanghai, China pada Oktober 2009. Berbagai masalah kesehatan anak yang terkait gastrointestinal, hepatobilier dan nutrisi seperti gangguan saluran cerna, alergi, kelainan autoimun saluran cerna, hepatitis, atresio bilier hingga ke masalah kesulitan makan akan dibahas dalam pertemuan ini.
(ver/ir)










































