Hubungan antara infeksi telinga kronis dengan risiko kegemukan pada anak memang bukan kali ini saja diungkap oleh para peneliti. Namun dalam berbagai penelitian sebelumnya, belum pernah disimpulkan bagaimana keduanya bisa saling mempengaruhi.
Dr Il Ho Shin dari Kyu Hee University di Seoul, Korea Selatan baru-baru ini mengungkap bahwa infeksi telinga kronis mempengaruhi kemampuan otak dalam mengolah pengecapan rasa oleh lidah. Sensitivitasnya menurun terutama untuk mengecap rasa manis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penelitiannya, Dr Il melakukan pemeriksaan terhadap 42 anak yang menderita infeksi telinga kronis dan 42 anak dengan telinga sehat sebagai pembandingnya. Anak-anak dengan rentang usia 3-7 tahun itu diamati kemampuannya mengecap rasa manis, pahit, asin dan asam.
Kesimpulannya, infeksi tidak berpengaruh pada kemampuan mengecap rasa pahit dan asam namun sangat mengurangi kemampuan mengecap rasa manis. Akibatnya anak-anak dengan infeksi telinga kronis relatif lebih gemuk dibanding anak-anak dengan telinga sehat.
Anak-anak dengan infeksi telinga kronis rata-rata memiliki indeks massa tubuh (IMT) 20,6 sementara anak dengan telinga sehat hanya 17,7. Dikutip dari Reuters, Selasa (22/3/2011), nilai normal IMT menurut US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) untuk anak adalah 17.
Pada anak, infeksi telinga kronis (chronic otitis media) biasanya terjadi di telinga bagian tengah. Kondisi ini pada umumnya ditandai dengan radang dan keluarnya cairan atau lendir di dalam rongga telinga, serta memicu rasa nyeri di telinga.
Bila tidak diatasi, infeksi dapat merusak pendengaran dan bahkan bisa mengganggu perkembangan otak dan saraf anak. Seperti halnya infeksi di bagian lain, pengobatan untuk infeksi telinga kronis dilakukan dengan pemberian antibiotik yang sesuai.
(up/ir)











































