Angka 47 persen merupakan data hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001. Meski beberapa penelitian terbaru dengan skala yang lebih kecil menunjukkan adanya perbaikan, namun diyakini jumlah balita yang menderita anemia belum banyak berubah.
Sesuai rekomendasi organisasi kesehatan dunia (WHO), bila jumlah penderita anemia defisiensi besi melebihi 40 persen maka tidak perlu dilakukan skrining individual. Pemberian suplemen zat besi secara massal boleh dilakukan sebagai langkah pencegahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selengkapnya, dosis dan frekuensi pemberian suplemen besi untuk anak di bawah usia 2 tahun adalah sebagai berikut.
| Kondisi | Dosis | Keterangan |
| Bayi berat badan lahir rendah (kurang dari 2,5 kg) | 3 mg/kgBB/hari | sejak usia 1 bulan sampai 2 tahun, setiap hari |
| Bayi cukup bulan, berat badan normal | 2 mg/kgBB/hari | sejak usia 4 bulan hingga 2 tahun, setiap hari (maksimal 15 mg/hari) |
Selain dari suplemen, zat besi sebenarnya juga bisa diperoleh dalam Air Susu Ibu (ASI) maupun sumber makanan lain seperti hati ayam, daging merah dan sayuran hijau. Namun pemberian suplemen dinilai tetap perlu karena asupan zat besi dari makanan dinilai tidak cukup.
"Kalau sebuah keluarga masak hati ayam, maka biasanya yang mendapat porsi terbesar adalah bapaknya. Kebutuhan zat besi untuk anaknya tetap kurang. Kalau dari sayur, paling tidak anak harus makan 3 ikat bayam," ungkap anggota Satgas Adebe IDAI, Dr Soedjatmiko, SpA(K), MSi dalam jumpa pers di laboratorium klinik Prodia, Kramat, Rabu (13/4/2011).
Selain menyebabkan anemia, kekuarangan zat besi pada anak terutama di bawah usai 2 tahun juga berdampak pada kecerdasan. Berbagai penelitian membuktikan, anak dengan defisiensi atau kekurangan zat besi akan kehilangan Intelligence Quotience atau tingkat kecerdasan sebanyak 5-15 poin.
(up/ir)










































