Masyarakat moderen cenderung lebih terbuka terhadap beragam ekspresi gaya hidup, termasuk tato di kalangan anak remaja. Jika dahulu hanya orang-orang dengan latar belakang budaya tertentu seperti orang Dayak yang membuat tato, kini semua orang bisa punya tato.
Kesan garang seperti preman juga tidak selalu muncul jika tato yang dibuat bentuknya lucu-lucu, misalnya gambar kupu-kupu atau ikan lumba-lumba. Bahkan beberapa orang membuat tato permanen sebagai identitas yang menunjukkan kondisi kesehatannya, misalnya penderita diabetes.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Remaja yang memiliki tato 5 kali lebih berisiko terlibat pergaulan bebas, termasuk melakukan seks pranikah. Kecenderungan lain pada remaja bertato adalah 3 kali lebih rentan bergabung dalam sebuah geng, sehingga 2 kali lebih rentan kena masalah di sekolahnya misalnya berkelahi.
Dikutip dari health24, Jumat (29/4/2011), penyalahgunaan zat adiktif (substance abuse) juga termasuk perilaku berisiko yang lebih rentan dilakukan remaja bertato. Tidak selalu berupa narkotika dan psikotropika, rokok juga termasuk adiktif yang rentan disalahgunakan oleh remaja bertato.
Dibandingkan remaja yang tidak memiliki tato, perilaku menghisap rokok pada remaja bertato teramati lebih tinggi. Sekitar 60 persen remaja bertato mengaku telah menghisap merokok dalam sebulan terakhir, sementara pada remaja yang tidak bertato angkanya hanya 26 persen.
Berbagai fakta ini terungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan Timothy Roberts dari Golisano Children's Hospital di New York. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Paediatrics ini melibatkan 6.000 remaja di Amerika Serikat dengan usia antara 17-21 tahun.
(up/ir)











































