Studi yang dilakukan ilmuwan di University of Southern California menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal dalam rumah tangga yang stres lebih rentan terhadap kerusakan paru-paru dari polusi lalu lintas.
"Stres akan mengakibatkan efek polusi yang lebih besar pada anak-anak, tapi saya terkejut bahwa polusi udara yang meningkat tidak berpengaruh pada anak-anak dari rumah dengan stres yang rendah," jelas Dr. Talat Islam dari University of Southern California, penulis utama studi, seperti dilansir Health24, Selasa (26/7/2011).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu masuk akal. Tubuh dan keausan yang disebabkan oleh stres bisa membuat individu lebih rentan terhadap efek lalu lintas terkait polusi udara," jelas Dr. Jane Clougherty dari University of Pittsburgh yang tidak terlibat dalam studi.
Dalam studi tersebut, peneliti menilai fungsi paru-paru hampir 1.400 anak yang tinggal di California selatan. Peneliti juga memperkirakan jumlah polutan lalu lintas di hampir 1.000 area yang berbeda.
Secara khusus mereka mencari nitrogen oksida yang terbentuk ketika bahan bakar dibakar. Menurut American Journal of Medicine Respiratory Critical Care, nitrogen oksida dapat merusak jaringan paru-paru dan membuat asma menjadi lebih buruk.
Enam tahun sebelumnya, orangtua anak-anak telah mengisi kuesioner tentang tingkat stres. Pertanyaan yang diajukan misalnya tentang seberapa sering mereka merasa mampu menangani masalah pribadi atau mengontrolnya.
Hasilnya, untuk anak-anak yang tinggal di dalam rumah dengan tingkat stres yang tinggi, setiap terjadi kenaikan 22 ppb nitrogen oksida, fungsi paru-paru mereka menurun sebesar 4,5 persen.
(mer/ir)










































