"Jadikan menyusui sebagai gaya hidup agar anak bisa tumbuh optimal dan anak tetap mendapatkan hak nya," ujar Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dr Slamet Rijadi Yuwono saat membacakan pidato Menkes di acara Temu Nasional Konselor Menyusui 1 di gedung Kemenkes, Kamis (11/8/2011).
"ASI eksklusif adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi kalau ingin menghasilkan masa depan yang optimal," lanjut dr Slamet Rijadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemberian ASI pada bayi tidak hanya sekedar rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), tapi juga diakui oleh agama sebagai makanan bayi dan anak ciptaan Tuhan yang tidak bisa digantikan dengan makanan atau minuman lain. Selain itu ada banyak manfaat yang bisa didapatkan oleh ibu dan juga bayi jika memberikan ASI pada buah hatinya.
"Salah satu upaya yang bisa dilakukan agar anak dapat tumbuh optimal adalah memberikan makanan terbaik untuk anak, dan hal ini harus dipersiapkan sejak dini," ujar dr Slamet.
Berdasarkan survei sosial ekonomi nasional (Susenas) tahun 2004-2009, diketahui cakupan bayi yang mendapatkan ASI eksklusif secara terus menerus dari usia 0-6 bulan meningkat dari 19,5 persen (2005) menjadi 34,3 persen (2009).
"Meskipun ada kenaikan cakupan, tapi keadaan ini belum menggembirakan sehingga diperlukan upaya yang makin kuat dan komprehensif diantara para pemangku kepentingan," ujar Menkes Endang Sedyaningsih.
Berbagai hal diketahui menjadi faktor yang mempengaruhi belum optimalnya pemberian ASI eksklusif, salah satunya adalah gencarnya promosi pemberian susu formula.
Faktor lain yang mempengaruhi adalah belum optimalnya penerapan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui (10 LMKM) serta kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya ASI.
(ver/ir)











































